Konsekuensi Baru Media Hari Ini

November 2, 2011 at 19:11 (Uncategorized)

Kok Cuma digelandang, bawa ke lapangan dan tembak saja!

Buat apa ada kantor polisi? Tutup dan jadikan pabrik tahu saja!

 

Kurang lebih begitulah ungkapan masyrakat kita sekarang terhadap polisi. Komentar-komentar itu muncul untuk kasus penembakan seorang guru mengaji di Sidoarjo, Riyadi Solichin, oleh oknum polisi, Briptu Eko. Menurut pelaku, ia terpaksa menembak karena korban melawan dengan celurit saat hendak ditangkap setelah menyerempet mobilnya. Beredar kontroversi soal kasus itu. Ada yang melihat sebelumnya Briptu Eko dkk baru saja minum-minum di Café Ponti, ada yang bersaksi Solichin tidak membawa celurit, ada pula hasil lab yang menetapkan tidak ada kandungan alkohol dalam urine pelaku.

 

Masyarakat marah. Selama dua hari, Minggu dan Senin lalu, Sidoarjo dicekam demo ratusan warga Sepande, kampung Solichin, yang ‘nglurug’ ke Mapolsek. Hampir seluruh kalangan masyarakat menuntut keadilan ditegakkan. Mungkin kasus ini adalah puncak meletusnya kemarahan masyarakat pada polisi. Kasus Solichin menjadi bom atas kasus-kasus lain yang melibatkan polisi, entah mafia ataupun korupsi. Yang jelas, masyarakat sudah tergerak, dan adakah kekuatan yang bisa mengalahkan pergerakan masyarakat mayoritas?

 

Di media-media sosial yang kini seakan menjadi ruang publik dan terbuka luas, komentar-komentar miring tentang polisi bertebaran. Salah satunya, di halaman facebook e100 yang dikelola Suara Surabaya Media. Komentar negatif seperti contoh di atas, yang mengatasnamakan kemarahan rakyat karena ketidakadilan, muncul untuk tautan perkembangan berita demi berita soal kasus Solichin di halaman e100. Komentar itu ditanggapi oleh facebookers lain, semakin tajam, semakin menghujat. Ada sebagian yang memasrahkan keadilan pada tangan hukum, tapi percayalah, itu hanya sebagian kecil.

 

Sependek pengalaman saya yang belum lagi seumur jagung, perang komentar di halaman facebook e100 bukan hanya sekali ini terjadi. Perang komentar pernah terjadi untuk tindakan SBY Presiden sewaktu merombak Kabinet Indonesia Bersatu II, ajakan Presiden untuk memilih Pulau Komodo sebagai new7wonder yang dikritik akademisi, bahkan sampai masalah balita tertabrak dua kali di China yang berujung pada masalah rasis. Kalau sudah begitu, admin harus berkeringat mengingatkan soal kesantunan yang kemudian malah balik dikritik, atau kalau tidak mau pusing, hapus saja posting beritanya.

 

Penilaian pribadi saya, itu semua terjadi karena tidak ada ‘gatekeeper’ dalam sosial media macam facebook. Tautan atau share berita maupun informasi soal apapun, bisa dilakukan. Apalagi untuk halaman facebook yang merupakan kepanjangan tangan dari media massa tertentu. Halaman facebook demikian pasti digunakan untuk berbagi informasi pada khalayak seluas mungkin, lebih luas dari yang bisa dicapai media massa konvensional-nya sendiri. Namun di satu sisi, pengguna facebook juga tidak bisa dibatasi. Siapapun bisa mendaftar, dengan nama sebenarnya maupun samaran, aktif di facebook dan ‘ikut-ikutan’ aktif berkomentar.

 

Meskipun sejatinya facebook diciptakan agar kita bisa tetap terkoneksi dengan orang-orang di sekitar, praktek di lapangan telah melampaui jauh dari itu. Facebook seakan menjadi dunia baru, dunia maya lengkap dengan interaksi kehidupa di dalamnya, dengan orang-orang yang kita kenal maupun tidak kenal sama sekali. Banyaknya kasus penipuan di facebook, soal Icha dan Umar misalnya, telah membuktikan hal itu.

 

Rupanya media massa konvensional melihat ini sebagai peluang dan tantangan, bagaimana mengembangkan sayap konvensional mereka, untuk bisa menjangkau lebih banyak khalayak dan pastinya selalu tetap eksis. Maka menautkaan berita dari website mereka ke facebook, menjadi lazim karena dengan begitu akan menambah jumlah pengunjung ke halaman web. Bukankah hampir semua media hari ini telah berkonvergensi dengan internet dan memiliki website masing-masing?

 

Komentar-komentar yang datang atas tautan berita itu, tak ubahnya seperti surat pembaca yang masuk ke redaksi surat kabar. Bedanya, komentar datang tanpa bisa diseleksi. Positif, negatif, sampai yang mencemarkan nama baik. Kalau dihapus maupun dicekal penggunaannya, facebookers yang jumlahnya jutaan itu akan protes atas nama kebebasan berpendapat dan demokrasi. Bagi mereka, facebook adalah salah satu media menyuarakan aspirasi. Kritik, saran, pedas, manis, harus ditampung semua.

 

Salah satu karakteristik media massa yang umpan baliknya tidak langsung dan tertunda menurut ilmu komunikasi, kini seakan menjadi mitos. Umpan balik itu bisa langsung datang ketika media menautkan beritanya pada sosial media. Dan konsekuensinya, menurut pemikiran saya yang pendek ini, adalah kebijakan pemilik media untuk memilih berita mana yang bisa ditautkan dan tidak. Berita mana yang akan menimbulkan kontroversi, konflik, atau membangkitkan semangat dan motivasi pembaca.

 

Seingat saya, hal seperti itu dinamakan news judgement. Artinya, media harus menerapkan news judgement yang berbeda jika ingin menautkan beritanya pada sosial media. News judgement itu harus disesuaikan dengan karakteristi sosial media yang bersangkutan, juga karakteristik penggunanya. Bagi saya, ini tanggung jawab dan konsekuensi baru bagi media hari ini. Entahlah, apakah posting catatan saya di facebook ini juga akan menuai kontroversi dan konflik, saya hanya berbagi pemikiran. (Icha)

Permalink Leave a Comment

Kuasa Tak Terbantah Sang Pemerintah

May 15, 2011 at 21:44 (Uncategorized)

Jika Anda seorang wartawan, apa yang akan Anda lakukan ketika agen-agen pemerintahan mengintimidasi Anda untuk mengungkap identitas sumber anonim padahal Anda telah terikat perjanijan dengannya? Akankah Anda tetap berpegang teguh pada kode etik demi integritas dan profesionalisme, jika kerasnya kehidupan dalam jeruji besi telah membekap Anda selama satu tahun?

***

Kehidupan Rachel Armstrong tak pernah senormal ini. Mengantarkan Timothy, anak lelakinya ke sekolah di pagi hari, mendapat sebuah ciuman dan pelukan, lalu berangkat ke kantor. Meski terkadang harus lembur, ia tak pernah alpa dari keluarga kecilnya yang bahagia. Bahkan beberapa hari dalam seminggu ia merelakan sebagian waktu mendampingi dan menjaga teman-teman sekolah anaknya.

Namun pagi itu, setelah peluk dan cium hangat dari Timmy, Rachel kedatangan ‘tamu tak diundang’. Dua orang petugas FBI menyeretnya ke depan Patton Dubois, penuntut federal yang sejak saat itu menghantui kehidupan Rachel. Penuntut itu memenjarakan Rachel atas nama ‘ancaman keamanan nasional’.

Perkaranya, Rachel membuka identitas rahasia seorang mata-mata CIA dalam tulisannya. Wartawan “Capital Sun Times” itu tak sengaja mendapat informasi bahwa Erica Van Doren, istri mantan duta besar Amerika Serikat Oscar Van Doren, adalah seorang mata-mata CIA yang dikirim ke Venezuela untuk menyelidiki keterkaitan mereka atas penyerangan terhadap Presiden AS.

Saat verifikasi, Erica menegaskan sumber Rachel 110% benar. Tanpa ragu, wartawan politik itu menuliskannya dan diterbitkan sebagai headline disuratkabarnya. Tulisan itulah yang membuat ia berali-kali diintimidasi agen pemerintahan untuk mengungkapkan sumber beritanya, dan berkali-kali pula ia menolak menyebutkannya. Sampai akhirnya, Rachel dijebloskan ke penjara.

Pegangan jaksa penuntut adalah hukum bahwa barang siapapun yang mengetahui rahasia CIA tidak boleh menyebarkannya. Karena Rachel tetap menolak menyebutkan identitas sumbernya, ia dianggap melindungi musuh penjara, mengganggu keamanan nasional.

Hampir satu tahun ia tak lagi mengantar jemput Timmy, mendampingi murid-murid sekolah dasar, menulis, bahkan mengikuti perkembangan berita. Setahun itu pula Rachel teguh memegang prinsipnya, kode etiknya, perjanjiannya dengan sang sumber anonim. Meskipun amandeman kelima yang menjadi perlindungan hukum wartawan, kalah pamor dibanding amandemen pertama yang mengagungkan keamanan nasional.

Hakim tertinggi akhirnya memutuskan Rachel bebas walaupun hasil pemungutan suara juri pengadilan masih memenangkan jaksa penuntut federal. Di malam kebebasannya, baru beberapa meter meninggalkan penjara, lagil-lagi Rachel ditangkap. Kali ini dengan tuduhan menghalangi pengadilan, dan ia dihukum dua tahun penjara.

Tahukah Anda siapa ternyata sumber anonim itu? Allison, putri bungsu Erica sendiri. Yang pada suatu ketika duduk di samping Rachel saat ia sedang mendampingi murid-murid SD seperti biasanya. Allison, teman satu kelas Timmy, menceritakan ‘rahasia negara’ itu dengan polos, dan mereka kemudian terlibat janji untuk ‘tidak mengatakan siapa yang berbicara’.

Hal itu kemudian dijadikan bahan dasar Rachel untuk membuat berita. Ia sudah melakukan verifikasi terhadap orang dekat Presiden, bahkan terhadap Erica sendiri, dan keduanya membenarkan. Jadi, salahkah Rachel jika ia lalu menulisnya dalam sebuah berita? Dan salahkah ia jika teguh pendirian untuk ‘tdak mengatakan siapa yang berbicara’?

Bukankah Bill Kovach dan Tom Rosenstiel pernah menyebutkan tujuh kriteria sumber anonim, yang salah satunya ‘keselamatan sumber terancam bila identitasnya dibuka’? Bagaimana nasib Allison, gadis kecil polos itu, jika pemerintah tahu ia yang ‘membocorkan rahasia’? Lagipula keterangan itu telah dapat diverifikasi, seperti yang juga tercantum dalah tujuh kriteria sumber anonim ala Kovach-Rosenstiel, bukankah gadis kecil pun pantas disebut ‘sumber anonim’?

Kejadian itu memang hanya dalam film “Nothing But the Truth”, namun bagaimana seandainya benar terjadi? Negara penganut demokrasi sebesar Amerika, pemerintahnya turut campur ‘melenyapkan’ orang-orang penggangu keamanan nasional. Tak peduli ia warga negaranya atau bukan. Tak peduli haknya sebagai wartawan atau tidak. Pemerintah masih menancapkan dalam-dalam cakar kuasanya atas nama stabilitas negara.

Akankah itu juga yang akan terjadi diIndonesiajika RUU Rahasia Negara jadi disahkan? Hak tolak yang menjadi pegangan wartawan, untuk menolak menyebutkan sumber beritanya meski di hadapan pengadilan, runtuh kekuatannya dibandingkan hukum untuk melindungi rahasia-rahasia negara yang mungkin publik justru lebih baik untuk tahu. Demokratisasi masyarakat, akan timbul tenggelam dihanyutkan kepentingan keamanan nasional atau stabilitas negara. Kebebasan memperoleh dan menyebarluaskan informasi, akan mati bersamaan dengan bangkitnya tirani.

Jangan pernah salahkan wartawan jika ia berpegang teguh pada kode etiknya. Jangan salahkan wartawan jika ia menjunjung tinggi integritas dan profesionalitas. Rachel bisa saja dengan mudah menjawab pertanyaan yang selama ini mengintimidasinya, lalu kembali ke keluarganya. Timmy tidak akan kesepian, dan suaminya tidak akan berselingkuh dengan perempuan lain.

Namun jika itu terjadi, profesionalisme wartawan akan mati. Semua orang akan menutup pintu untuk para wartawan, takut apapun yang mereka katakan akan ‘dibocorkan’. Tak seorang pun mau berbicara pada Rachel, tak seorang pun percaya lagi pada “Capital Sun Times”. Dan lebih parah, tak seorang pun percaya pada wartawan. Jadi, salahkah Rachel atas integritas dan loyalitasnya yang tinggi pada profesi wartawan?

Kalimat terakhir dari pembela Rachel menyatakan, memenjarakan wartawan hanya untuk negara yang takut dengan warga negaranya, bukan untuk negara yang membela dan melindungi warga negaranya. Anda ingin jadi yang mana, wahai pemerintah Indonesia? Negara yang membela dan melindungi warga negara, menjamin demokratisasi, melindungi setiap hak asasi termasuk untuk mendapatkan informasi? Atau negara yang terlalu takut, sehingga merasa berhak melakukan kriminalisasi terhadap warga negara termasuk wartawan, serta membuat pagar tinggi dialiri listrik bertegangan tinggi dengan tulisan “RAHASIA NEGARA”? (Icha Afrisia)

Permalink Leave a Comment

Everywhere Journalism

May 3, 2011 at 08:03 (Uncategorized)

Everywhere Journalism

Seorang pecandu jejaring sosial Twitter di Abbottabad, Sohaib Athar, terkejut mendengar suara derum helikopter yang memecah hening malam kotanya. Senin, 2 Mei 2011 sekitar pukul 01.00, helikopter pertama datang, disusul yang kedua dan ketiga. Berikutnya, masih ada suara ledakan dan helikopter jatuh. Detik demi detik, peristiwa demi peristiwa yang Athar interpretasi hanya lewat salah satu indera, pendengaran, ia tulis melalui tweet-nya.

Seperti yang ditulis Kompas edisi Selasa, 3 Mei 2011, tanpa disadari Athar telah menyampaikan laporan pandangan mata operasi militer yang akhirnya menewaskan Osama bin Laden. Ya, kegaduhan helikopter dan suara ledakan yang kata Athar membuat kaca jendela bergetar itu, adalah operasi militer terpenting Amerika melawan terorisme. Osama ditemukan di sebuah rumah mewah di Abbottabad, Pakistan, setelah sepuluh tahun ia menjadi buron militer Amerika.

Athar sendiri baru mengetahui peristiwa itu setelah pagi harinya menonton Obama memastikan tewasnya Osama bin Laden. Dengan bangga Obama menyampaikan pada warga Amerika dan dunia, Osama tewas dalam operasi militer Amerika. Operasi militer yang dilaporkan Athar dengan terus memperbarui tweet-nya, dianggap Obama sebagai keadilan yang telah ditegakkan.

Jelas Athar bukan seorang wartawan, ia adalah pemrogram komputer yang kebetulan terbangun dini hari itu dan rutin menuliskan detik demi detik peristiwa dalam Twitter. Namun jauh sebelum televisi menayangkan pernyataan kepresidenan Obama di balik mimbar dengan lambang Amerika, “laporan” Athar telah lebih dulu sampai pada orang-orang seluruh dunia. Ia tidak perlu turun ke lapangan dibekali peralatan canggih untuk live menyampaikan laporan, ia hanyalah seorang saksi mata yang melaporkan peristiwa atas inisiatif sendiri.

Dan Twitter, jejaring sosial itu mengakomodasi makin cepatnya arus infomasi bergulir tanpa perlu profesionalitas dan kompetensi yang dimiliki seorang wartawan. Karena memang sejatinya manusia punya hasrat untuk saling mencari dan memberi informasi. Bukan hanya Twitter, kecanggihan teknologi masa kini memang telah memungkinkan setiap orang saling berkirim informasi aktual, terbaru, terkini, terhangat, tanpa harus melewati kompleksnya sistem media massa.

Saya teringat Errol Jonathans, Direktur Operasional Suara Surabaya pernah mengkhawatirkan aktualitas yang seharusnya menjadi kekuatan radio, suatu saat akan kalah oleh Facebook, Twitter, bahkan BBM. Pendengar tidak perlu repot menelepon ke stasiun radio untuk menginformasikan sebuah kemacetan misalnya, ia cukup berbagi informasi lewat Facebook, Twitter, ataupun BBM yang lebih personal. Dan pendengar lain, atau bahkan mungkin lebih banyak orang, akan mendapat informasi itu.

Televisi dan terutama surat kabar seharusnya juga amat mengkhawatirkan hal itu. Kecepatan dan aktualitas informasi yang disampaikan media massa akan kalah oleh kecanggihan teknologi. Ketika dulu orang pernah takut akan adanya citizen journalism yang muncul lewat blog, web pribadi, radio dan televisi interaktif, kini teknologi membuat semua orang bisa menjadi penyampai informasi. Saya pribadi menyebutnyasebagai everywhere journalism.

Nah, kalau sudah begini, apakah suatu saat nanti profesi wartawan akan mati karena setiap orang bisa memegang peran itu? Apakah wartawan benar-benar akan kalah oleh kecepatan dan aktualitas informasi dari teknologi? Belum tentu. Menurut saya, asalkan wartawan bisa memegang teguh profesinya, melaksanakan aktivitas jurnalistik sesuai kompetensi dan etika, ini adalah sebuah kekuatan yang tak dimiliki oleh semua warga.

Karenanya, para wartawan, kalau Anda semua tidak ingin “mati”, berkreasilah! Kita masih bisa unggul pada berita yang mendalam, yang luput dari pengamatan orang biasa. Kalau masih ada wartawan yang malas, yang hanya meliput peristiwa secara permukaan saja, bersiaplah untuk kalah dan mati. Kualitas pemberitaan masih bisa kita unggulkan, jangan justru mundur dari persaingan dan membuat berita sampah dengan alasan ceruk pasar masih ada.

Maaf kalau agi-lagi saya harus mengutip, namun kutipan ini bagi saya amat menarik. Seorang anggota Dewan Pers berkata pada saya, ia mengibaratkan kemerdekaan pers adalah oksigen demokrasi. Semakin diisi oleh informasi dan pers yang berkualitas, oksigen itu akan semakin murni dan menyehatkan masyarakat. Namun jika pers mengisinya dengan berita-berita sampah, udara akan pengap, masyarakat pun tak sehat.

Ayo kita pacu lagi produktivitas profesi wartawan, meski tantangan baru telah menjelma, everywhere journalism. Kalau saya seorang wartawan, saya akan berkata, here is journalism! (Icha)

Permalink Leave a Comment

No Body Don’t Need the Media

February 27, 2011 at 14:04 (kolom)

No Body Don’t Need the Media

Dalam film “Green Zone”, tidak ada rakyat Amerika yang percaya bahwa sejak 1991, Irak tidak lagi memproduksi senjata pemusnah massal. Mereka lebih memilih percaya pada pemerintahnya yang mengatakan senjata pemusnah massal itu ada di Diwaniya, dan Al Mansour Baghdad. Militer Amerika di Irak ditugaskan menyergap gedung-gedung tua, menggali di tanah lapang, tanpa pernah membawa pulang bukti konret senjata itu memang ada.

Pemikiran kritis Roy Miller, Pembantu Letnan Satu Angkatan Darat Amerika lah yang akhirnya membawa ia pada kesimpulan, informasi lokasi senjata pemusnah massal yang diberikan padanya, tidak pernah benar. Ia sama sekali tidak meragukan letak koordinatnya, tetapi justru bertanya-tanya siapa intelejen si pemberi informasi yang selalu salah itu.

Sayang tak seorang pun berniat menggubris pertanyaan Miller. Mereka, dari tingkat anak buah sampai pejabat tertinggi, bersikukuh tidak ada yang salah dengan sang intel. “Gali saja dan temukan senjata pemusnah massal itu,”. Tapi Miller skeptis, ia ingin tahu alasannya berperang selama ini. Ia bukan orang yang manggut-manggut saja di bawah perintah.

Saat akhirnya Miller dan pasukannya menyerbu sebuah rumah yang dijadikan tempat pertemuan rahasia berdasarkan informasi dari salah seorang “haji” (panggilan Amerika untuk warga Irak), ia menemukan fakta lain dibanding yang selama ini ia ketahui. Informan yang ia dapatkan dari serbuan mendadak ke rumah itu, diangkut paksa oleh serombongan pasukan khusus yang datang tiba-tiba dengan helikopter. Entah apa sebabnya, mereka begitu bernafsu menguasai sang informan, yang akan menunjukkan mereka jalan menuju Jenderal Mohamed Al Rawi.

Bekerja sama dengan Martin Brown dari CIA, akhirnya Miller punya kesempatan berbicara dengan Seyyed Hamza, sang informan. Karena telah babak belur disiksa pasukan khusus, Hamza hanya dapat menyebutkan kata “Yordania”. Dari Lawrie Dwayne, wartawati The Wall Street Journal Miller tahu apa arti kata “Yordania”. Di tempat itu seorang pejabat Amerika, Clark Poundstone pernah bertemu dengan Jenderal Al Rawi, dan sejak itu nama “Magellan” banyak muncul di surat kabar sebagai sumber anonim.

Miller berjuang membuktikan sumber anonim itu hanya karangan pejabat Amerika, termasuk informasi yang dibawanya untuk para wartawan maupun militer. Ya, “Magellan” menyebutkan lokasi-lokasi senjata pemusnah massal, yang tidak pernah terbukti satu pun.

Nyatanya, Irak memang tidak pernah lagi memproduksi bahkan menyimpan senjata pemusnah massal seperti yang dituduhkan. Pertemuan di Yordania menghasilkan jawaban itu. Namun pejabat Amerika lah yang membuat “Magellan” dan menyebutkan Irak masih memiliki senjata pemusnah massal. Pejabat Amerika lah yang memanfaatkan media untuk menebaran kebohongan, sehingga perang tak pernah berakhir sampai Amerika berhasil menduduki Irak.

Dalam perjalanannya, Miller menemukan bukti hidup atas fakta itu: Jenderal Al Rawi sendiri. Namun pada akhirnya sang jenderal terbunuh dan Miller menjadi satu-satunya orang yang percaya “Magellan” hanya karangan, dan Irak tidak punya senjata pemusnah massal.

Ke mana Miller membawa kebenaran yang akhirnya terungkap? Jawabannya adalah ke media. Ia mengirim email kepada media-media di Amerika -CNN, USA Today, The Wall Street Journal, dan lain-lain -yang berisi kebenaran. Pemalsuan intelejen oleh pejabat Amerika sendiri. Miller tak salah karena ia membutuhkan media, untuk menebar kebenaran di atas kebohongan yang telah ditebar sebelumnya. Di tangan media, fakta kebenaran itu akan bergaung di seluruh publik Amerika, dan begitulah film “Green Zone” berakhir.

Seperti judul tulisan ini, no body don’t need the media. Tak seorang pun yang tidak membutuhkan media. Bahkan pejabat pemerintah Amerika untuk memanipulasi fakta yang terjadi di Irak dan membentuk opini publik atas itu, bahkan pua seorang militer Amerika untuk menebarkan kebenaran yang ia tahu dirinya yang berbicara seorang diri, takkan ada orang yang percaya. Semua orang membutuhkan media, dengan kekuatannya yang (masih) sedemikian perkasa menebarkan informasi, memengaruhi agenda dan opini publik.

Jadi kalau Dipo Alam bersikeras ia hendak memboikot media, apalagi dengan alasan menjelek-jelekkan pemerintah, ia mengingkari hak setiap orang yang membutuhkan media. Bahkan hak dirinya dan kelompoknya sendiri: pemerintah. Lewat mana lagi pemerintah akan bercermin atas kinerja yang selama ini mereka lakukan, kalau bukan lewat media? Lewat mana lagi pemerintah akan menebarkan hal apapun yang berkenaan dengan pemerintah (entah baik atau buruk), kalau bukan lewat media?

Belajarlah dari film “Green Zone”, Bapak. Kebenaran, sekeras apapun usaha untuk menutupinya dan selihai apapun manipulasinya, akan tetap terungkap. Dan sarana paling tepat mengungkap kebenaran adalah lewat media. Karena para insan pers yang bekerja di media itu punya nurani, Bapak. Dan mereka diperbolehkan mengikuti nurani itu sesuai elemen jurnalisme kesembilan. Kalau buruk, mereka tulis buruk. Kalau memang Bapak merasa telah bekerja dengan baik, pasti akan mereka tulis baik pula. Berwacana memboikot media, Anda hanya akan ditertawakan oleh publik Anda yang semakin cerdas ini. Ini waktunya berdemokrasi, tidak zamannya lagi tirani dan manipulasi. Sadarilah bahwa siapapun, termasuk Anda sendiri, akan membutuhkan media.

Icha Afrisia

Permalink Leave a Comment

Niat Saja Tidak Pernah Cukup

February 18, 2011 at 11:49 (kolom)

Niat Saja Tidak Pernah Cukup

Mata bulat koinnya menatapku memelas, ia duduk bertumpu pada kedua kakinya di depan pintu, menanti kedatanganku. Kalau aku membuka pintu itu, badannya yang putih menggemaskan berjalan ke arahku, berputar-putar di kakiku. Maka aku akan menunduk, seberapa berat dan banyaknya beban dalam tas ranselku, mengulurkan tangan untuk sekadar membelai kepalanya. Berbagi sayang setelah seharian aku sibuk di luar rumah sementara ia kesepian menungguku di rumah. Ia pun menggeliat dengan nyaman, menyorongkan leher dan bagian-bagian tubuhnya yang lain yang ingin dibelai atau digaruk. Aku pun dengan senang hati menuruti kehendaknya. Sampai terakhir, biasanya kututup dengan menepuk-nepuk kepalanya atau mencium sekilas ujung hidungnya.

Ritual itu terjadi hampir setiap hari, tak terkecuali malam itu. Aku baru saja pulang setelah seharian penuh melampiaskan rindu pada kekasih hati. Dia menungguku di depan pintu, dengan mata bulat koin yang memelas menunggu dibelai. Namun dengan lembut aku menyebut namanya, memintanya menunggu lagi sampai aku selesai bercengkerama dengan si doi di teras rumah. Dia tidak lelah menunggu, terkadang ditinggal sebentar untuk menyantap makan malam yang tersedia, tapi tak lama kembali lagi ke depan pintu. Ketika ternyata cengkeramaku baru berakhir pukul sembilan lebih, aku berniat dalam hati untuk mengajak dia tidur bersamaku saja di kamar nanti. Kasihan, dia sudah menunggu belaian dariku lama sekali.

Nyatanya, setelah terbuai oleh cengkerama indah bersama kekasih, aku masih terbuai lagi oleh film vampire keren di sebuah stasiun TV, yang sudah pernah kutonton di bioskop dan kubaca dalam novel tapi masih tetap tidak bosan menontonnya untuk kesekian kali. Bukannya memenuhi niat tidur bersama dia di kamar, aku justru menggelar kasur di depan tv, menonton film sampai tertidur. Dia, kubiarkan berkeliaran di sekelilingku, tidur di kolong meja, atau bersandar lemari buku. Besok sajalah aku tidur bersama dia, begitu pikirku kala itu.

Lewat tengah malam, aku terbangun karena geraman keras di bawah tangga. Aku melihat matanya nyalang, seakan baru saja mengalami sesuatu yang mengejutkan. Dan memang dia baru saja mengalaminya. Aku menyadari saat melihatnya berjalan tertatih, kaki kirinya tertekuk menggantung tak menyentuh bumi. Segera setelah itu ia berbaring di sudut-sudut ruangan, terus menyendiri merasakan sakit tak terperi yang dialaminya akibat jatuh dari anak tangga teratas.

Aku berharap esok pagi semua akan membaik, dia hanya keseleo dan sudah bisa berjalan dengan normal lagi. Tetapi harapanku pupus saat kulihat mata bulat koinnya tak lagi memancarkan cahaya menggemaskan yang biasa, berganti menyimpan perasaan sedih dan rasa sakit luar biasa. Ia tak lagi duduk di depan pintu menunggu belaianku, tidak lagi berlarian ke kamarku, berkejaran dengan kawan-kawannya, bermain dengan bola, bertengger di atas mobil memandangi tukang sayur atau loper koran langganan, bahkan jarang mengeluarkan suara manja seperti yang sudah-sudah. Dia lebih memilih menyendiri di sudut-sudut ruangan, hanya bergerak terpincang-pincang saat merasa lapar atau hendak buang air.

Melalui rontgen, aku tahu tulang kaki yang biasa dia gunakan untuk bertumpu sambil menungguku pulang itu, telah patah menjadi tiga bagian. Bahkan ada tiga serpihan di sekeliling patahan itu, tak heran ia selalu tampak kesakitan. Dia pun harus menginap di rumah sakit, membutuhkan perawatan intensif, dan yang paling penting, operasi tulang yang amat mahal harganya. Sejak kemarin malam, aku pulang ke rumah dengan perasaan hampa. Karena tak lagi terlihat sosoknya yang putih menggemaskan, dengan ekor pendek yang bergerak-gerak senang saat tubuhnya dibelai lembut. Sejak kemarin, ia terbaring lemah di rumah sakit hewan.

Peristiwa lewat tengah malam saat dia terjatuh dari tangga, terus berputar-putar di kepalaku. Menyusup sebuah perasaan sangat bersalah yang bercampur dengan penyesalan amat sangat. Seandainya malam itu aku jadi mengajaknya tidur di kamar bersamaku, tidak akan begini jadinya. Dia tidak akan jatuh terhempas dengan keras, dan tulang kakinya tidak akan patah menjadi tiga. Yang penting lagi, dia tdak akan merasakan sakit yang tak terperi itu.

Kurasakan betapa bodoh diriku, yang malam itu hanya berniat mengajaknya tidur bersama. Tidak benar-benar kulakukan dengan memanggilnya atau menggendongnya ke dalam kamarku. Aku justru mengingkari niat dengan tidur di depan tv, tanpa memedulikan dirinya. Ternyata, niat saja tidak pernah cukup. Meski dikatakan niat baik sudah dapat nilai plus dari Tuhan, yakinlah itu tidak akan pernah cukup. Nilai plus tidak ada artinya dibandingkan nilai plus plus plus yang akan didapat ketika niat itu benar-benar terlaksana.

Untuk beribadah misalnya, sering saya hanya niat akan beribadah lengkap dan tepat waktu, tetapi pelaksanaannya tidak pernah sesuai. Kadang saya beribadah tidak tepat waktu, kadang bahkan tidak lengkap waktu. Tetapi setan dalam hati saya menghibur, yang penting kan sudah pernah niat. Baru sekarang saya benar-benar yakin, niat memang tidak pernah cukup. Bisa saja terjadi sesuatu yang buruk ketika apa yang sudah diniatkan tidak terlaksana, seperti dia yang jatuh dan patah tulang karena niat saya untuk mengajaknya tidur di kamar, urung. Saya tidak ingin sesuatu yang buruk juga akan terjadi ketika saya sudah berniat beribadah, tetapi urung. Entah Tuhan menilai apa. Plus, atau plus plus plus. Yang jelas, meski niat sudah ada, tetapi pelaksanaannya tidak terjadi. Karena Tuhan sangat baik hati, mungkin Dia sudah akan menilai plus. Tetapi jangan selalu memanfaatkan baik hatinya Tuhan, Kawan. Kita manusia ini, tahu diri sedikit lah. Tuhan sudah banyak memberi, sekali-sekali kita berikan pengabdian yang terbaik untuk-Nya. Lakukan yang terbaik, dan jangan hanya berniat melakukan yang terbaik. Karena niat saja tidak pernah cukup.

Tulisan ini saya persembahkan untuk kucing saya yang terpaksa terluka karena niat saya yang tak terlaksana. Miky, cepat sembuh yaaa…

Icha Afrisia

Permalink Leave a Comment

Seorang Bocah Ingusan dari Pentas Jalanan ke Panggung Masa Depan

November 29, 2010 at 19:38 (Uncategorized)

Dulunya ia hanya bocah ingusan yang menumpang kereta dari Malang ke Surabaya. Saat kawan-kawan sebayanya berseragam merah putih dan duduk di bangku sekolah, ia justru berkelana mencari ayahnya. Berbekal cerita dari sang nenek, bocah itu nekat ke Surabaya. Tanpa tahu harus ke mana, menemui siapa, akan melakukan apa.

Untung ia menemukan tempat bernaung. Sederhana, hanya perkumpulan anak jalanan tempat ia bisa mengasah kemampuan. Seorang pria besar berambut gondrong mengajarkan beberapa hal kecil pada mereka, seperti menyanyi dan bermusik. Bocah itu pun makin akrab pada gitar dan kehidupan jalanan di sekitaran Terminal Joyoboyo, Surabaya.

Seiring waktu, pria besar berambut gondrong itu mulai mengajaknya tampil di pentas-pentas musik. Peresmian ini dan itu, melayani permintaan turis asing yang tertarik pada irama serampangan musik jalanan, dan banyak kegiatan lain. Perkumpulan itu menemukan eksistensinya. Tempat mereka belajar pun tidak lagi di sudut-sudut terminal dan diobrak preman-preman.

Lapak tak karuan di tepian Sungai Brantas mereka sulap menjadi ceria dengan warna-warni khas anak-anak. Mereka bukan hanya belajar bermusik, tetapi juga Bahasa Indonesia dan Matematika. Tidak hanya dari pria besar berambut gondrong, tetapi juga orang-orang yang mulai peduli masa depan mereka.

Lalu sebuah rumah sederhana di sebuah sudut jalan akhirnya menjadi wadah permanen mereka bernaung, termasuk bocah ingusan itu. Sanggar, begitu mereka menyebutnya. Ia tumbuh dewasa di sana. Mengembangkan kemampuan bermusik, menyablon, sampai belajar akademis.

Kadang, pagi sampai siang hari ia masih mengamen dari angkot satu ke angkot lain. Menebarkan suara cemprengnya yang mempesona. Sorenya belajar di sanggar. Malamnya, ia pulang ke rumah ibunda. Kalau itu bisa disebut rumah. Hanya petak kontrakan sempit di dalam gang-gang kecil yang membekap Joyoboyo, menempel erat dengan petak-petak di sampingnya. Kamar mandi di belakang petak itu pun digunakan bersamaan dengan penghuni petak-petak yang lain.

Mereka tinggal berdua saja. Setiap akan meninggalkan rumah, tak lupa ia berpamitan dan mencium dengan khidmat tangan kanan ibunya itu. Sesekali ia memberi bonus ciuman di pipi kanan dan kiri. Betapa bocah itu sangat mencintai dan menghormati ibunya.

Davy Indriawan, nama bocah itu. Banyak orang memanggilnya Wawan. Semakin hari, ia tumbuh menjadi pemuda berbadan tegap dan berparas cukup tampan. Meski dekat dengan banyak perempuan, hanya dua ia yang cintai setulus hati di dunia: sang ibunda dan musik.

Awal perkenalanku dengannya sekitar tahun 2004, saat aku kecopetan handphone dan uang saku di terminal. Karena tidak punya sepeserpun uang untuk naik angkot dan pulang, aku mendatangi sanggar. Kebetulan, aku memang sering main ke sanggar, untuk mengerjakan tugas Sosiologi. Sore itu, hanya ada Wawan duduk santai di terasnya.

Aku pun bercerita soal peristiwa yang baru kualami. Setelah meminjam uang dua ribu rupiah, aku segera pulang. Beberapa hari aku masih kepikiran soal handphone yang hilang, namun setelah itu aku ikhlas. Sekitar tiga minggu kemudian, aku kembali mendatangi sanggar, kali ini bersama teman-teman. Selain untuk melunasi utang, aku juga membawakan hadiah kecil untuk sanggar yang saat itu berulang tahun.

Pria besar berambut gondrong pemilik sanggar memanggilku secara khusus waktu itu. Di sampingnya ada Wawan dan beberapa kawan jalanan lain. Awalnya aku diceramahi, ditegur agar tidak lagi sembrono dengan handphone. Saat aku hendak beranjak pulang, pria besar berambut gondrong itu mengeluarkan handphone-ku dari sakunya. Ya, itu benar-benar handphone milikku yang hilang tiga minggu lalu. Setengah mati aku berterima kasih padanya, dan bertukar senyum dengan Wawan.

Mungkin handphone itu tidak akan kembali utuh ke tanganku jika saat itu aku tidak cerita pada Wawan, dan Wawan tidak menceritakannya pada pria besar berambut gondrong itu. Kalau aku jadi anak jalanan seperti Wawan, entah apa yang akan kulakukan dengan cerita handphone hilang dari seorang kenalan yang tiba-tiba datang.

Ia bisa saja cuek. Tapi nyatanya Wawan membantuku menemukan handphone itu. Sejak itu, aku semakin mengenal mantan bocah ingusan bernama Wawan. Setidaknya aku tahu, bukan hanya badannya yang tegap, tapi hatinya juga tulus.

Aku dan Wawan saling belajar. Ia menanyakan soal Ekonomi maupun kata-kata yang tidak dipahami artinya. Aku banyak belajar soal struggle of life darinya. Soal bagaimana ia teguh bertahan di tengah kerasnya kehidupan jalanan, dan soal semangatnya yang tak pernah pupus untuk belajar.

Wawan sempat disekolahkan di sekolah umum oleh pria besar berambut gondrong itu. Namun kemudian ia memilih keluar dan tetap menekuni kejar paket seperti kawan-kawan jalanan lainnya. “Setelah tahu aku anak jalanan, aku selalu diolok-olok,” begitu Wawan beralasan.

Selain pertemuan-pertemuan indah di Kenjeran dan warung-warung makan serta bioskop-bioskop jalanan, aku dan Wawan dipisahkan oleh jarak. Kami bertahun-tahun tak bertemu karena aku meneruskan pendidikan tinggi di luar kota.

Namun setiap aku liburan dan pulang kampung, kami selalu menyempatkan waktu untuk bertemu. Di sela-sela kerja padatnya sebagai pelayan restoran, dengan semangat ia bercerita soal cita-citanya. “Aku masuk SMA pakai biaya sendiri. Sekarang aku sudah lulus, dapat ijazah SMA, jadi lebih gampang cari kerja. Nggak bisa hidup cuma dari ngamen,” kata Wawan. Matanya berbinar-binar penuh harap saat bercerita tentang dirinya. Aku tahu ia bangga.

Ia ingin melanjutkan sekolah di ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta, namun apa daya biaya tak ada. Wawan berganti-ganti pekerjaan. Karyawan di perusahaan retail, pelayan restoran, sampai pegawai di klub malam.

Kalau Wawan memintaku menemaninya melewatkan jam kerja di restoran, aku masih melihat cara berpamitan yang sama kepada ibunya di pagi hari. Cium tangan penuh hormat, ditambah cium sayang di pipi kanan dan kiri. Aku juga melihat hanya ada dua seragam yang ia pakai selama seminggu. Dua hari sekali ia mencuci seragamnya. Langsung dipakai lagi esok harinya.

Sepatu pantofel hitamnya hanya ada satu dan sudah lusuh, ia sembuyikan di atap kontrakannya karena takut kena tangan jahil anak-anak kampung. Motornya tetap mesin dua tak yang menggerung dengan keras di sepanjang perjalanan. Dan sepanjang hari di sudut restoran, aku melihatnya dengan ramah melayani pelanggan yang datang, tak peduli betapa jutek pelanggan itu.

Meski jam kerjanya padat dan hanya libur sehari dalam seminggu, hampir setiap sore Wawan tetap latihan nge-band. Dulu sewaktu masih aktif di sanggar, ia bisa bermain segala macam alat musik di band sanggar. Ia juga pentas di mana-mana, bahkan sampai Jakarta. Soal itu juga dengan bangga ia ceritakan, matanya masih berbinar-binar.

Karena kesibukan masing-masing, aku semakin jarang bertemu Wawan. Awal-awal, ia masih sering menyapaku di telepon, menceritakan pengalaman hidup dan mimpi-mimpinya. Band-nya diundang pentas di sana-sini, ia bertemu artis ini dan itu, sampai ia ditawari rekaman di Jakarta. “Aku mimpiin kamu jadi musisi terkenal deh Wan,” aku memberi semangat.

Namun belakangan, Wawan seakan menghilang. Aku pernah dua kali bertemu dengannya secara tak sengaja di Joyoboyo. Kami tak sempat mengobrol, hanya ada senyum yang saling dilemparkan dengan ragu-ragu. Entah apa penyebabnya, ia kembali ke habitat lamanya. Mengamen dari satu angkot ke angkot lain.

Tak lama, Wawan mengirim pesan singkat ke handphone-ku. Tidak lagi menelepon seperti biasanya. Karena ternyata, ia sibuk di Jakarta. Grup musiknya lolos sebuah ajang pencarian bakat di televisi swasta nasional. Wawan meminta dukungan.

Wawan yang sekarang kulihat, bukan bocah ingusan seperti dulu lagi. Ia tampil berganti-ganti kostum setiap minggu, dielu-elukan penggemar dari seluruh penjuru nusantara. Baju resminya tak lagi berwarna hitam-putih dan hanya dua lembar. Sepatu pantofelnya pun berbagai model dan merk terkenal. Ketika akhirnya Wawan memenangkan kontes itu, aku turut bersyukur. Ia, dengan matanya yang berbinar-binar dan semangat hidupnya itu, juga dengan rasa cintanya yang selalu tulus pada sang ibu, memang layak mendapatkan kemenangan.

Bocah ingusan itu bernama Davy Indriawan, orang-orang memanggilnya Wawan. Tanggal 25 Desember nanti, usianya genap 22 tahun. Kini ia bukan lagi seorang bocah ingusan di pentas-pentas jalanan. Selama berpuluh-puluh tahun hidup dalam kesederhanaan, karena usaha dan semangat ia pun berhasil mencapai cita-citanya. Wawan yang sekarang, tengah berada di panggung masa depan.

Aku bangga melihat kawanku meski hanya dari layar kaca. Ia adalah seorang pahlawan. Dari yang bukan apa-apa, hanya berkutat di pentas-pentas jalanan, bocah ingusan itu pun berdiri menjulang di panggung masa depan. Zero to Hero. Ya, seperti judul buku karangan Abu Izzudin Penerbit Pro-U Media itu. Dan sekali lagi, aku banyak belajar darinya.

[Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html]

Permalink 2 Comments

Seandainya Gayus Tidak Difoto…

November 16, 2010 at 15:36 (kolom)

Seandainya Gayus Tidak Difoto…

Seandainya Chuck Lane tidak ngeyel saat diperintahkan menata ulang majalahnya, mungkin The New Republic tidak akan menanggung malu akibat perbuatan salah satu wartawannya, Stephen Glass. Sang bos, Lew, ingin Chuck mengubah sampul, grafis, dan menambah foto dalam majalah itu, agar tampil lebih modern. “Kalau mereka mau foto, beli saja Newsweek,” bantah Chuck kala itu. Ia ingin The New Republic mempertahankan karakter mereka sejak 1980-an.

Akibatnya, Steve, panggilan akrab Stephen Glass, bisa bebas ber-edisi-edisi, tanpa ketahuan, membuat berita fiktif. Ia berimajinasi dalam tulisannya, yang bahkan tak pernah ada dalam fakta. Tujuannya sederhana: disukai di komunitasnya, dan kalau bisa, membuat tulisan menarik agar dapat Pulitzer. Klimaks khayalannya adalah pada tulisan Hack Heaven, yang membuatnya jatuh meski berjuta alasan dan alibi ia sampaikan, berkat kejelian Forbes Digital.

Selain faktor kepercayaan editor yang didapatnya dari Michael Kelly dan tidak dari Chuck Lane, Steve juga “beruntung” karena tidak perlu menyertakan foto dalam tulisannya. Gloria, salah seorang staf The New Republic, akhirnya mengingatkan Chuck betapa penting arti sebuah foto. Semua dosa besar Steve bisa dicegah dengan foto. “Bagaimana bisa mengarang karakter jika apa yang ditulis harus difoto?” Gloria melontarkan pertanyaan retoris, yang kemudian menyadarkan Chuck.

Seandainya Kadek tidak menjepretkan kameranya ke sosok berjaket hitam mirip Gayus HP Tambunan di pertandingan tenis internasional di Bali, kasus betapa mudahnya para napi “kelas atas” melenggang keluar tahanan mungkin tidak akan pernah terungkap. Masyarakat mungkin akan perlahan lupa pada Gayus si mafia pajak, seperti masyarakat akhirnya lupa pada Aulia Pohan atau Urip Tri Gunawan karena media massa tak lagi memberitakan mereka.

Nyatanya, foto orang mirip Gayus (yang akhirnya diakui Gayus sebagai dirinya yang ingin “refreshing” karena stress dan kangen anak-istri), beredar di masyarakat, semua media (bahkan televisi) menampilkan foto bersumber Kompas itu. Foto itu pula yang dijadikan ahli telematika untuk mengukur persentase kemiripan “pria mirip Gayus” dengan Gayus yang sebenarnya. Dan nyatanya, kasus Gayus kembali menyita perhatian. Bukan saja riwayatnya sebagai mafia pajak, tapi juga perkara jutaan rupiah yang konon ia keluarkan dari kantong tiap minggu untuk menyuap masing-masing kepala penjara agar ia bisa terus “refreshing”.

Dan sang pahlawan yang tidak kesiangan kali ini bukan hanya sang fotografer, tapi juga lembaran foto Gayus itu. Betapa penting kekuatan sebuah foto. Ia adalah bukti yang tak dapat bersuara namun menyimpan ribuan makna. Foto bisa menjadi penambah kesan untuk setiap tulisan agar pembaca tidak hanya membayangkan. Tulisan tentang meletusnya Merapi tanpa foto awan panas atau wedhus gembelnya akan terkesan hambar, bukan? Foto juga bisa menjadi bukti sebuah peristiwa sebagai dasar atau pijakan penelusuran, seperti dalam kasus “foto mirip Gayus”. Foto juga bisa meminimalisasi kebohongan wartawan, membuktikan bahwa apa yang ditulisnya adalah benar-benar atas dasar fakta.

Bayangkan seandainya Gayus tidak difoto saat “refreshing” ke Bali itu, polisi tidak akan kebakaran jenggot karena kesalahannya kali ini benar-benar terbukti: membiarkan Gayus keluar penjara. Meski alasannya sakit atau apapun, yang jelas Gayus justru pergi ke Bali. Dan akhirnya masyarakat pun tahu berapa kali dalam bulan-bulan ini Gayus “refreshing”, yang artinya berapa kali pula ia menyuap petugas penjara.

Juga bayangkan seandainya dalam film Shattered Glass, setiap reporter wajib menyertakan foto dalam tulisannya. Steve tidak akan “sukses” disukai lewat tulisan-tulisannya yang ternyata bohong belaka.

Ya, bayangkan seandainya tidak pernah ada foto…

Icha Afrisia

Permalink Leave a Comment

keajaiban

July 28, 2010 at 18:52 (Uncategorized)

Balasan Tuhan Selalu Datang Tepat Waktu

Saya baru saja mengalami keajaiban!

Kedua kalinya dalam hidup, handphone saya hilang dan masih diizinkan Tuhan kembali lagi ke tangan ini. Yang pertama waktu saya masih SMA dulu, tanpa sadar kecopetan di Terminal Joyoboyo. Beberapa hari kemudian, handphone itu kembali karena kebetulan saya kenal “sing mbaurekso” preman jalanan di sana. Utuh, hanya pulsanya berkurang beberapa ribu. Karena itu pertama kalinya kehilangan handphone, saya sungguh-sungguh bersyukur pada Tuhan dan berterimakasih pada “sing mbaurekso” itu.

Siang tadi, handphone saya hilang lagi. Bukan handphone yang sama, yang ini lumayan “nge-trend” karena sudah bisa buat internet, facebook, ada kamera, dan sebagainya. Ya, bukankah sekarang ukuran nge-pop tidaknya barang kita adalah bisa untuk koneksi internet?

Baiklah, kembali masalah handphone. Saya baru saja dari ATM di JS Plaza, tarik tunai duit untuk membayar tiket pesawat ke Banjarmasin. Cukup lama saya duduk santai di kantor travel, persis di samping ATM Center JS Plaza. Menunggu mbak-mbak bagian ticketing yang sedang sibuk menerima telepon sambil mengecek harga tiket secara online.

Tiba-tiba hati ini ingin SMS pacar saya yang dari tadi belum juga memberi kabar. Ingin berbagi keadaan sekaligus bertanya sederhana, sedang apa dia di sana. Saat itulah saya tersentak. Handphone yang biasanya tidak pernah lepas dari tangan karena selalu SMS-an itu, tidak ada.

Saya mendadak panik. Muncul kilatan-kilatan memori dalam otak saya. Saat saya menggulung tali handphone yang panjang itu, yang biasanya saya gantungkan di leher itu. Saya membuka pintu mobil. Saya berjalan sambil mengecek apakah ada SMS masuk. Saya membuka pintu ATM. Dan terakhir, kilatan memori itu berhenti pada saat saya meletakkan handphone di atas mesin ATM.

Setelah itu, seakan otak saya macet. Seakan memorinya karatan sehingga tidak bisa mengingat peristiwa setelah saya menarik uang dari ATM itu. Rasanya saya langsung membuka pintu, lalu masuk ke kantor travel. Tapi rasanya juga, handphone saya masukkan ke dalam tas. Saya obok-obok isi tas, tetap tidak ada. Tak salah lagi, handphone saya pasti tertinggal di bilik ATM.

Tanpa buang waktu lagi saya kembali ke bilik ATM. Tidak ada barang tertinggal apapun di sana, kecuali selembar kertas hadil cetak transaksi seseorang, jelas bukan hasil transaksi saya tadi. Dalam waktu yang cukup lama saya duduk-duduk santai sambil memperhatikan mbak-mbak bagian ticketing yang sibuk telepon tadi, entah sudah berapa orang keluar masuk bilik ATM itu. Dan entah siapa yang masuk, terkejut melihat ada handphone di situ, lalu keluar sambil masih syok, membawa handphone saya.

Kalang kabut saya mencari satpam, atau bagian keamanan, atau siapalah yang sekiranya menjaga ATM Center itu. Entah kenapa, setiap kali kita sedang sangat membutuhkan dan betul-betul mencari sesuatu atau seseorang, yang dicari seakan hilang ditelan bumi. Tidak ada satpam yang saya temui. Dengan bodoh saya bertanya pada orang-orang yang baru saja keluar dari ATM tempat saya meninggalkan handphone tadi. Tentu saja semua menjawab tidak tahu.

Saat panik, terkadang memang kita menjadi super bodoh. Saya baru ingat kalau ibu saya, satu-satunya orang yang saya kenal sedang bersama saya waktu itu, membawa handphone. Langsung saya sambar handphone-nya, lalu saya mondar-mandir (betul-betul mondar-mandir, tidak bohong!) di parkiran sambil terus menghubungi nomor yang sudah saya hapal di luar kepala, nomor saya sendiri.

Panggilan pertama, lama nada sambung itu berbunyi, tapi tak ada jawaban. Panggilan kedua, sama saja. Padahal saya yakin ringtone handphone saya cukup keras untuk didengar orang yang lewat kalau kebetulan handphone itu tertinggal di suatu tempat. Syukurlah, pada panggilan ketiga, akhirnya ada yang menjawab telepon saya.

“Halo, Assalamualaikum,” sapanya. Suara perempuan.

“Waalaikumussalam. Ini siapa?” saya bertanya tanpa basa-basi.

“Lho ini siapa?” orang itu balik bertanya.

“Saya nelepon ke nomor saya sendiri,” sumpah, saya bingung bagaimana menjelaskan. Sekarang, setelah saya bisa berpikir jernih, baru saya sadar, bukankah kebingungan itu selesai kalau saya menjawab “Saya yang punya handphone yang Anda pegang,”.

“Oh, ini yang punya handphone. Saya tadi nemu handphone ini di ATM Jemur Sari,” untung orang itu lebih tidak kacau pikirannya, dibandingkan saya waktu itu.

“Mbak sekarang di mana?”

“Di kantor pos,” saya berteriak syukur dalam hati. Kantor pos yang dimaksud pasti kantor pos yang berada persis di sebelah JS Plaza. Artinya, orang itu tidak jauh-jauh.

“Di mananya?”

“Teller, Mbak,”

“Oke, saya ke sana sekarang,” tanpa basa-basi lagi saya tutup telepon itu, lalu berlari-lari kecil ke kantor pos.

Saya tidak tanya orang itu siapa, seperti apa ciri fisiknya, atau pertanyaan-pertanyaan mendetail lain yang biasa ditanyakan orang-orang yang mau kopi darat. Saya sampai tidak berpikir ke sana, saking paniknya.

Sampai di kantor pos, saya telepon lagi orang itu. ia tidak perlu mengangkat telepon, juga tidak perlu memberitahukan ciri-ciri fisiknya. Karena saya sangat mengenal “Girl Friend”-nya Avril Lavigne yang saya setel sebagai ringtone handphone. Hati saya lega bukan main.

Entah berapa kali saya mengucapkan terima kasih pada orang yang menemukan handphone saya. Setelah mengucapkan terima kasih yang kesekian, diiringi anggukan pengertian dan pesan supaya lebih hati-hati lain kali dari orang itu, saya langsung cabut. Masih bodoh, karena saya sampai tidak ingat menanyakan namanya. Siapapun diri Anda di luar sana yang tadi siang menemukan handphone saya dan dengan jujur mengembalikannya, sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Syukurlah, Tuhan masih mengembalikan handphone itu ke tangan saya, melalui tangan Anda.

Saya jadi ingat kejadian serupa waktu saya masih kuliah di Unpad Jatinangor, kira-kira setahun yang lalu. Saya sedang malas jalan kaki, jadi naik angkot dari gang depan kos menuju Jatinangor Town Square (Jatos), padahal jaraknya sama sekali tidak jauh. Tiba-tiba, suara keras ringtone handphone mengagetkan saya. Saya sempat kaget beberapa detik, namun kemudian menyadari, rupanya ada handphone tertinggal tepat di celah jok angkot yang saya duduki. Agak ragu saya menjawab panggilan itu.

“Halo,”

“Ini siapa?” baru saya sadar juga, tidak ada pertanyaan lain dari orang yang mencari handphone hilang kepada orang yang menemukan handphone-nya kecuali “Ini siapa?”.

“Saya nemu handphone ini di angkot,” saya sadar lagi, tidak ada jawaban lain dari orang yang menemukan handphone itu kecuali “Saya menemukan handphone ini di …,”.

“Saya bisa ambil handphone ini di mana?”

“Saya menuju Jatos,” jawab saya.

“Oke, saya tunggu di Jatos,”

Ternyata memang semua orang yang panik kehilangan handphone itu bodoh. Orang itu tidak bertanya saya seperti apa, berapa lama lagi saya sampai Jatos, dan pertanyaan mendetail lain yang biasa dilontarkan orang saat mau kopi darat, bodohnya sama seperti bodoh saya tadi siang. Lalu bagaimana orang itu bisa tahu angkot mana yang membawa handphone-nya, dan perempuan turun angkot yang seperti apa yang menemukannya?

Tetapi sepertinya Tuhan memberi kepekaan perasaan yang lebih pada orang-orang yang kehilangan handphone. Buktinya, orang yang katanya menunggu saya di Jatos itu, baru saya turun dari angkot langsung meminta handphone-nya pada saya. Bagaimana ia bisa tahu? Kepekaan perasaan itu tadi, mungkin. Dan seperti saya tadi siang yang begitu panik, orang itu juga hanya mengucap terima kasih lalu pergi begitu saja.

“Tidak akan ada balasan materi untuk hal semacam ini. Tapi pasti Tuhan mencatatnya dan akan membalasnya suatu saat nanti,” kata saya waktu itu, dalam hati.

Setelah peristiwa hilang sementara-nya handphone saya tadi siang, baru saya ingat kejadian itu. Dan saya langsung bersyukur setengah mati pada Tuhan, yakin inilah balasan dari-Nya. Tuhan telah mengatur semuanya, mungkin Ia ingin saya ingat untuk bersyukur pada-Nya, atau mungkin Tuhan hanya tidak ingin punya “utang” untuk membalas perbuatan saya waktu di Jatinangor itu.

Tuhan mengatur “orang itu” yang masuk ke bilik ATM dan menemukan handphone saya, bukan orang lain. “Orang itu”, yang diatur oleh Tuhan itu, yang punya tujuan tidak naik angkot ke Joyoboyo atau mana saja yang jauh dari jangkauan saya, tapi hanya melangkahkan kaki ke kantor pos sebelah. Tuhan juga mengatur “orang itu” berjilbab seperti saya, meski saya tahu ini tidak ada hubungannya, tapi mungkin dalam diri “orang itu” terbersit rasa persaudaraan sehingga tidak tega mendzolimi saya dengan mengambil begitu saja “rejeki nomplok” berupa handphone di depan matanya. Tuhan telah mengatur, lewat tangan “orang itu”-lah Ia membalas saya.

Saya jadi teramat sangat percaya, segala perbuatan itu pasti ada balasannya. Perbuatan baik dibalas baik, perbuatan buruk dibalas buruk. Kapan pun itu, kita tidak pernah tahu. Tuhan yang menentukan segalanya. Tuhan yang tahu kapan kita butuh balasan dari-Nya.

Yang jelas, peristiwa tadi siang membuat saya menguatkan hati untuk melakukan yang terbaik dalam hidup. Apapun itu, bagi siapapun itu, hanya yang terbaik yang akan saya lakukan. Karena yang terbaik pasti mendapat balasan yang terbaik juga. Perbuatan buruk apapun, meski kecil dan tidak ada orang tahu, Tuhan tahu dan akan membalasnya pula. Tuhan itu tidak pernah tidur, Tuhan itu Maha segalanya.

Karena itu, lakukanlah selalu yang terbaik! Karena balasan Tuhan selalu datang tepat waktu…

Terima kasih, Tuhan. Alhamdulillah…

Permalink Leave a Comment

Menyontek yang Salah

May 11, 2010 at 12:03 (kolom)

Menyontek yang Salah

Budaya sontek menyontek tampaknya memang lazim. Mulai dari ulangan harian di kelas-kelas sekolah, ujian nasional, plagiatisme di tingkat universitas, bahkan menyontek budaya antarnegara. Menyontek itu wajar, karena setiap manusia punya kecenderungan sifat dasar untuk meniru. Manusia itu latah. Seperti balita meniru orang tuanya yang berucap kasar, anak kecil meniru suka berkelahi seperti acara Smack Down. Tidak perlu malu mengaku menyontek, karena menyontek bagian dari belajar. Seperti penulis yang menyontek gaya tulisan orang lain, menambal sana sini, sampai akhirnya menemukan gaya menulisnya sendiri. Menyontek itu membawa pengaruh, seperti tulisan Pramoedya Ananta Toer yang ternyata terpengaruh gaya tulisan John Steinbeck, seorang pengarang terkenal.

Saya pun seorang penyontek ulung. Banyak ide yang saya bajak, banyak gaya tulisan yang saya tiru. Karena saya menyadari tidak ada manusia yang asli urni 100 persen dirinya sepenuhnya. Manusia pasti terpengaruh lingkungan. Seperti saya yang terpengaruh banyak buku, banyak tulisan, banyak tontonan, banyak pemikiran.

Tetapi saya ogah menyontek yang salah. Kalaupun ada saatnya saya menyontek yang demikian itu, pasti secara tidak sengaja. Seperti kejadian yang saya alami kemarin, di lingkungan kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo. Saya berniat baik, mengajukan proposal kegiatan supaya Pemkab mau membantu finansial yang cekak. Dengan sok gagah dan sok rapi, kami bertiga, saya dan kedua teman saya, mendatangi kantor itu. Motor kami niatkan parkir di depan entah kantin atau koperasi, yang jelas di sana banyak motor parkir dan di dalam banyak orang berseragam cokelat khas pegawai negeri sedang bercengkarama. Jujur, saya awalnya sempat bingung. Tempat parkir  di lingkungan Pemkab kok semrawut begini. Tetapi karena diburu waktu dan diburu keringat takut kegagah-rapian kami hilang, kami parkir saja motor di situ.

“Eeeh, jangan parkir di situ. Motor saya nanti nggak bisa keluar. Tempat parkir sebetulnya ada jauh di belakang sana. Di sini nggak ada yang jaga. Kalau sampeyan ikhlas motornya hilang, ya silakan saja parkir di sini,” tiba-tiba, baru saja motor kami mati mesinnya, seorang bapak berkumis (masih dalam seragam cokelat), menegur keras. Sambil masih mengomel soal bahaya motor hilang karena tempat parkir di situ “ilegal”, si bapak dengan santai mengeluarkan motornya, lalu pergi. Kami bengong. Tapi sebagai mahasiswa cerdas yang mengenyam pendidikan kampus meski baru dua tahun, kami cukup punya akal untuk menghidupkan kembali mesin motor, dan mencari tempat parkir “legal” yang dikatakan bapak tadi “jauh di belakang sana”.

Akhirnya kami memang menemukan tempat parkir “legal” itu. Memang dijaga, dan harus membayar seribu rupiah. Dan tempatnya memang “jauh di belakang sana”. Kami harus berjalan cukup menggos-menggos untuk sampai ke kantor utama.

Sayangnya, dalam perenungan saya, kali itu tak sedikit pun saya merasa salah. Saya hanya menyontek, dan saya pikir menyontek saya kali itu cukup logis karena yang saya sontek adalah bapak berkumis dalam seragam cokelat. Bapak itu salah satu “penghuni” kantor bukan? Jadi yang saya sontek bukan orang yang salah.

Yang salah hanyalah perilaku orang itu. Yang tidak mau ribet dengan parkir “jauh di belakang sana”, tidak mau ribet bayar juru parkir, tidak mau ribet kalau mau ke kantin atau koperasi itu, tidak mau ribet kalau mau sesekali menyelinap keluar kantor.

Saya jadi membayangkan, kalau suatu saat orang berseragam cokelat dengan perilaku demikian menjabat kedudukan yang lebih tinggi. Lalu korupsi. Salahkah kalau kemudian korupsi itu membudaya, karena rakyat kecil di bawahnya menyontek perilaku bapak pejabat itu? Bisa ya, bisa tidak. Menyonteknya tidak salah, yang disontek juga tidak salah. Sekali lagi, perilakunya yang salah. Pejabat itu sudah jadi wakil rakyat, penyambung lidah rakyat, contoh atau tauladan buat rakyat, jadi tempat menyonteknya rakyat. Masa seorang panutan dengan amanah semulia itu, tidak bisa memberi sontekan yang benar?

Kalau saya bertemu dengan bapak berkumis dalam seragam cokelat itu lagi, ingin rasanya saya berkata: Wahai, Bapak pegawai yang telah diangkat oleh Negara. Jangan marah kalau motor saya diparkir di belakang motor Anda, saya hanya menyontek perilaku Anda yang lebih dulu memarkir motor di situ. Jangan salahkan saya kalau tempat parkir di situ tidak ada yang menjaga dan beresiko motor hilang. Anda yang lebih dulu memberi contoh. Dan karena Anda-lah sang Panutan, jangan salahkan kalau saya menyontek Anda. Karena itu, kalau ingin rakyat Anda tidak menyontek yang salah, ya berperilaku-lah yang benar!

Icha Afrisia

Permalink Leave a Comment

Inkonsistensi Manusia

April 6, 2010 at 06:43 (kolom)

Hujan ternyata bukan hanya membawa hawa dingin, air cipratan, dan banjir. Hujan tidak saja membuat gerundel karena jemuran tak juga kering. Kemarin sore, di tengah guyuran hujan, saat saya memutuskan berteduh daripada memakai jas hujan yang sejak beli jauh-jauh di Jakarta sana belum pernah saya coba sekali pun, saya menyadari hujan juga membawa inspirasi.

Saya sendirian saja saat itu. Baru turun dari motor karena takut kena hujan yang lebih ganas lagi. Sambil sedikit gondok karena sejak tadi saya berusaha menyalip kayuhan becak yang sangat lambat, tetapi gagal terus. Yang ada, saya kena marah sopirnya (kalau pengayuh becak boleh disebut sopir). Dan alhasil, butiran hujan yang besar-besar dan sakit kalau kena kulit itu, semakin membuat baju saya totol-totol. Basah. Jam tangan saya juga rada macet kalau kena air.

Saat sendiri itulah saya biasanya suka merenung. Langkah saya memang tertata, mengitari lorong demi lorong supermarket, sok pura-pura belanja biar tidak dikira numpang berteduh doang. Tapi pikiran saya melayang ke mana-mana.

Salah satunya, ke iklan event Fun Bike yang saya lihat belakangan ada di mana-mana. Billboard, baliho, spanduk, pamflet, dipajang di koran-koran. Seingat saya kegiatan itu diselenggarakan oleh sebuah media massa top di Tanah Air. Sponsornya banyak, dan rasanya memang tak perlulah saya menyebutkan satu per satu.

Seyakin saya, ‘jadilah sahabat bumi’ menjadi slogan kegiatannya. Betapa mulia menjadi sahabat buat bumi. Entah bumi menganggap manusia ini sahabatnya atau bukan. Sahabat tidak akan menyakiti, bukan? Tapi rupanya manusia selalu saja punya kecenderungan untuk menyakiti. Meskipun tanpa sengaja.

Seperti event Fun Bike itu. Yang hadiahnya begitu melimpah dan menggiurkan. Hanya dengan mendaftar 15 ribu, sudah dapat banyak fasilitas plus doorprize barang-barang ‘gedhe’. Mau tidak gedhe bagaimana. Doorprize-nya antara lain ada satu unit rumah, mobil, sepeda motor, beberapa unit TV, HP, lemari es, dan banyak lagi barang yang semakin banyak unitnya semakin ‘kecil’.

Sumpah, saya merasa aneh dan lucu. Kegiatannya adalah bersepeda, dalam rangka hari bumi, untuk menjadi sahabat bumi. Bukan hanya bersepeda malah, seribu pesepeda ikut menanam 10 ribu bibit mangrove. Mulia bukan?

Tetapi yang bikin aneh dan lucu, untuk menjadi sahabat bumi saja musti diiming-imingi hadiah doorprize melimpah. Ditambah lagi, doorprize-nya justru berupa barang-barang yang ‘menyakiti’ bumi, ‘menyakiti’ sahabat kita. Menambah kepemilikan rumah, artinya menambah pemakaian listrik. Menambah mobil, artinya menambah keluaran karbondioksida. Menambah motor sama saja. Menambah TV, HP, dan lemari es juga begitu. Katanya ingin menjadi sahabat bumi, tapi doorprize-nya kok justru menyemarakkan global warming. Apalagi, event sepeda santainya cuma sehari, sedangkan doorprize-nya bisa dipakai berhari-hari. Artinya, menjadi sahabat bumi cukup sebentar saja, pas perayaan hari bumi, setelah itu kita bebas melampiaskan nafsu manusia yang cenderung ‘menyakiti’ bumi itu lagi.

Setelah senyum-senyum sendiri karena merasa aneh dan lucu, pikiran saya ganti melayang pada beberapa pengalaman buruk saya dengan pengayuh becak. Yang bikin jalan jadi macet karena lambat lah, yang saya dimarahin karena mau menyalip dia. Gondok saya datang lagi.

Kemudian saya berpikir, coba, bagaimana perasaan saya dulu ketika belum jadi pengendara motor. Waktu saya masih bisa jadi ‘yang dibonceng’ saja. Sepertinya saya tidak bakal segondok ini. Pembonceng saya yang gondok setengah mati, sudah kena sial berada di belakang pengayuh becak yang lambat, kena omel saya lagi.

Ya, saya yang dulu mengomel. Kalau pembonceng saya mengumpat pada si pengayuh becak, saya ganti mengumpatnya. “Jangan gitu, bapaknya kan juga cari rejeki. Dia juga pengen cepet sampai, tapi apa daya kuatnya ngayuh cuma segitu. Kamu mending bisa pakai motor, dia kekuatan kaki lho!” kurang lebihnya begitu biasanya omelan saya. Pembonceng saya biasanya membunyikan klakson berkali-kali, dan betapa saya trenyuh melihat muka kelabakan si pengayuh becak. Panik, lalu dia berusaha sekuat tubuh menambah tenaganya mengayuh. Kasihan, dia cuma orang kecil.

Tapi entah bagaimana, perasaan saya bisa berubah saat saya jadi pengendara motor. Saya seakan bisa memahami alasan kebijakan yang melarang becak masuk kota. Becak tidak boleh melintasi jalan-jalan protokol. Dan saya langsung setuju saja, biar pengendara motor seperti saya tidak lagi gondok berada di belakang becak yang seperti Si Komo, bisa membuat jalanan macet saking lambatnya ia mengayuh.

Otak saya lalu menyadari, pikiran seperti itu muncul karena saya sudah punya kepentingan di sini. Sebagai pengendara motor. Yang juga ingin cepat sampai, jalanan lancar, bensin tidak habis banyak. Makanya becak sebaiknya dipinggirkan saja. Mungkin pengendara lain juga punya kepentingan sama seperti saya, makanya mereka gondok. Dan mungkin kebijakan itu pernah dibuat untuk mengakomodir kepentingan-kepentingan pengendara ini.

Dalam perenungan sore itu, saya membuat sebuah kesimpulan penting. Tentang betapa tidak konsisten-nya manusia. Terkadang dibutakan kepentingan pribadi. Seperti saya yang awalnya tidak punya kepentingan apa-apa soal becak (sama-sama pengguna jalan) dan tidak setuju pada kebijakan yang melarang becak masuk kota, langsung berubah 180 derajat setelah saya punya kepentingan di sana (sebagai pengendara yang merasa dirugikan becak). Seperti Fun Bike yang katanya untuk menjadi sahabat bumi, tetapi untuk menarik peserta doorprize-nya dicarikan barang ‘gedhe-gedhe’ yang justru ‘menyakiti’ bumi.

Tak berlebihan kiranya kalau saya memberi judul tulisan ini “Inkonsistensi Manusia”. Karena memang manusia itu tidak konsisten. Mungkin saya juga tidak konsisten, saya kan manusia. Mungkin tulisan yang dibuat seorang manusia ini juga tidak bisa terus konsisten. Dan kalau begitu, apakah inkonsisten juga salah satu sifat dasar manusia?

Icha Afrisia

Permalink Leave a Comment

Next page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.