Seandainya Gayus Tidak Difoto…
Seandainya Gayus Tidak Difoto…
Seandainya Chuck Lane tidak ngeyel saat diperintahkan menata ulang majalahnya, mungkin The New Republic tidak akan menanggung malu akibat perbuatan salah satu wartawannya, Stephen Glass. Sang bos, Lew, ingin Chuck mengubah sampul, grafis, dan menambah foto dalam majalah itu, agar tampil lebih modern. “Kalau mereka mau foto, beli saja Newsweek,” bantah Chuck kala itu. Ia ingin The New Republic mempertahankan karakter mereka sejak 1980-an.
Akibatnya, Steve, panggilan akrab Stephen Glass, bisa bebas ber-edisi-edisi, tanpa ketahuan, membuat berita fiktif. Ia berimajinasi dalam tulisannya, yang bahkan tak pernah ada dalam fakta. Tujuannya sederhana: disukai di komunitasnya, dan kalau bisa, membuat tulisan menarik agar dapat Pulitzer. Klimaks khayalannya adalah pada tulisan Hack Heaven, yang membuatnya jatuh meski berjuta alasan dan alibi ia sampaikan, berkat kejelian Forbes Digital.
Selain faktor kepercayaan editor yang didapatnya dari Michael Kelly dan tidak dari Chuck Lane, Steve juga “beruntung” karena tidak perlu menyertakan foto dalam tulisannya. Gloria, salah seorang staf The New Republic, akhirnya mengingatkan Chuck betapa penting arti sebuah foto. Semua dosa besar Steve bisa dicegah dengan foto. “Bagaimana bisa mengarang karakter jika apa yang ditulis harus difoto?” Gloria melontarkan pertanyaan retoris, yang kemudian menyadarkan Chuck.
Seandainya Kadek tidak menjepretkan kameranya ke sosok berjaket hitam mirip Gayus HP Tambunan di pertandingan tenis internasional di Bali, kasus betapa mudahnya para napi “kelas atas” melenggang keluar tahanan mungkin tidak akan pernah terungkap. Masyarakat mungkin akan perlahan lupa pada Gayus si mafia pajak, seperti masyarakat akhirnya lupa pada Aulia Pohan atau Urip Tri Gunawan karena media massa tak lagi memberitakan mereka.
Nyatanya, foto orang mirip Gayus (yang akhirnya diakui Gayus sebagai dirinya yang ingin “refreshing” karena stress dan kangen anak-istri), beredar di masyarakat, semua media (bahkan televisi) menampilkan foto bersumber Kompas itu. Foto itu pula yang dijadikan ahli telematika untuk mengukur persentase kemiripan “pria mirip Gayus” dengan Gayus yang sebenarnya. Dan nyatanya, kasus Gayus kembali menyita perhatian. Bukan saja riwayatnya sebagai mafia pajak, tapi juga perkara jutaan rupiah yang konon ia keluarkan dari kantong tiap minggu untuk menyuap masing-masing kepala penjara agar ia bisa terus “refreshing”.
Dan sang pahlawan yang tidak kesiangan kali ini bukan hanya sang fotografer, tapi juga lembaran foto Gayus itu. Betapa penting kekuatan sebuah foto. Ia adalah bukti yang tak dapat bersuara namun menyimpan ribuan makna. Foto bisa menjadi penambah kesan untuk setiap tulisan agar pembaca tidak hanya membayangkan. Tulisan tentang meletusnya Merapi tanpa foto awan panas atau wedhus gembelnya akan terkesan hambar, bukan? Foto juga bisa menjadi bukti sebuah peristiwa sebagai dasar atau pijakan penelusuran, seperti dalam kasus “foto mirip Gayus”. Foto juga bisa meminimalisasi kebohongan wartawan, membuktikan bahwa apa yang ditulisnya adalah benar-benar atas dasar fakta.
Bayangkan seandainya Gayus tidak difoto saat “refreshing” ke Bali itu, polisi tidak akan kebakaran jenggot karena kesalahannya kali ini benar-benar terbukti: membiarkan Gayus keluar penjara. Meski alasannya sakit atau apapun, yang jelas Gayus justru pergi ke Bali. Dan akhirnya masyarakat pun tahu berapa kali dalam bulan-bulan ini Gayus “refreshing”, yang artinya berapa kali pula ia menyuap petugas penjara.
Juga bayangkan seandainya dalam film Shattered Glass, setiap reporter wajib menyertakan foto dalam tulisannya. Steve tidak akan “sukses” disukai lewat tulisan-tulisannya yang ternyata bohong belaka.
Ya, bayangkan seandainya tidak pernah ada foto…
Icha Afrisia