Seorang Bocah Ingusan dari Pentas Jalanan ke Panggung Masa Depan

November 29, 2010 at 19:38 (Uncategorized)

Dulunya ia hanya bocah ingusan yang menumpang kereta dari Malang ke Surabaya. Saat kawan-kawan sebayanya berseragam merah putih dan duduk di bangku sekolah, ia justru berkelana mencari ayahnya. Berbekal cerita dari sang nenek, bocah itu nekat ke Surabaya. Tanpa tahu harus ke mana, menemui siapa, akan melakukan apa.

Untung ia menemukan tempat bernaung. Sederhana, hanya perkumpulan anak jalanan tempat ia bisa mengasah kemampuan. Seorang pria besar berambut gondrong mengajarkan beberapa hal kecil pada mereka, seperti menyanyi dan bermusik. Bocah itu pun makin akrab pada gitar dan kehidupan jalanan di sekitaran Terminal Joyoboyo, Surabaya.

Seiring waktu, pria besar berambut gondrong itu mulai mengajaknya tampil di pentas-pentas musik. Peresmian ini dan itu, melayani permintaan turis asing yang tertarik pada irama serampangan musik jalanan, dan banyak kegiatan lain. Perkumpulan itu menemukan eksistensinya. Tempat mereka belajar pun tidak lagi di sudut-sudut terminal dan diobrak preman-preman.

Lapak tak karuan di tepian Sungai Brantas mereka sulap menjadi ceria dengan warna-warni khas anak-anak. Mereka bukan hanya belajar bermusik, tetapi juga Bahasa Indonesia dan Matematika. Tidak hanya dari pria besar berambut gondrong, tetapi juga orang-orang yang mulai peduli masa depan mereka.

Lalu sebuah rumah sederhana di sebuah sudut jalan akhirnya menjadi wadah permanen mereka bernaung, termasuk bocah ingusan itu. Sanggar, begitu mereka menyebutnya. Ia tumbuh dewasa di sana. Mengembangkan kemampuan bermusik, menyablon, sampai belajar akademis.

Kadang, pagi sampai siang hari ia masih mengamen dari angkot satu ke angkot lain. Menebarkan suara cemprengnya yang mempesona. Sorenya belajar di sanggar. Malamnya, ia pulang ke rumah ibunda. Kalau itu bisa disebut rumah. Hanya petak kontrakan sempit di dalam gang-gang kecil yang membekap Joyoboyo, menempel erat dengan petak-petak di sampingnya. Kamar mandi di belakang petak itu pun digunakan bersamaan dengan penghuni petak-petak yang lain.

Mereka tinggal berdua saja. Setiap akan meninggalkan rumah, tak lupa ia berpamitan dan mencium dengan khidmat tangan kanan ibunya itu. Sesekali ia memberi bonus ciuman di pipi kanan dan kiri. Betapa bocah itu sangat mencintai dan menghormati ibunya.

Davy Indriawan, nama bocah itu. Banyak orang memanggilnya Wawan. Semakin hari, ia tumbuh menjadi pemuda berbadan tegap dan berparas cukup tampan. Meski dekat dengan banyak perempuan, hanya dua ia yang cintai setulus hati di dunia: sang ibunda dan musik.

Awal perkenalanku dengannya sekitar tahun 2004, saat aku kecopetan handphone dan uang saku di terminal. Karena tidak punya sepeserpun uang untuk naik angkot dan pulang, aku mendatangi sanggar. Kebetulan, aku memang sering main ke sanggar, untuk mengerjakan tugas Sosiologi. Sore itu, hanya ada Wawan duduk santai di terasnya.

Aku pun bercerita soal peristiwa yang baru kualami. Setelah meminjam uang dua ribu rupiah, aku segera pulang. Beberapa hari aku masih kepikiran soal handphone yang hilang, namun setelah itu aku ikhlas. Sekitar tiga minggu kemudian, aku kembali mendatangi sanggar, kali ini bersama teman-teman. Selain untuk melunasi utang, aku juga membawakan hadiah kecil untuk sanggar yang saat itu berulang tahun.

Pria besar berambut gondrong pemilik sanggar memanggilku secara khusus waktu itu. Di sampingnya ada Wawan dan beberapa kawan jalanan lain. Awalnya aku diceramahi, ditegur agar tidak lagi sembrono dengan handphone. Saat aku hendak beranjak pulang, pria besar berambut gondrong itu mengeluarkan handphone-ku dari sakunya. Ya, itu benar-benar handphone milikku yang hilang tiga minggu lalu. Setengah mati aku berterima kasih padanya, dan bertukar senyum dengan Wawan.

Mungkin handphone itu tidak akan kembali utuh ke tanganku jika saat itu aku tidak cerita pada Wawan, dan Wawan tidak menceritakannya pada pria besar berambut gondrong itu. Kalau aku jadi anak jalanan seperti Wawan, entah apa yang akan kulakukan dengan cerita handphone hilang dari seorang kenalan yang tiba-tiba datang.

Ia bisa saja cuek. Tapi nyatanya Wawan membantuku menemukan handphone itu. Sejak itu, aku semakin mengenal mantan bocah ingusan bernama Wawan. Setidaknya aku tahu, bukan hanya badannya yang tegap, tapi hatinya juga tulus.

Aku dan Wawan saling belajar. Ia menanyakan soal Ekonomi maupun kata-kata yang tidak dipahami artinya. Aku banyak belajar soal struggle of life darinya. Soal bagaimana ia teguh bertahan di tengah kerasnya kehidupan jalanan, dan soal semangatnya yang tak pernah pupus untuk belajar.

Wawan sempat disekolahkan di sekolah umum oleh pria besar berambut gondrong itu. Namun kemudian ia memilih keluar dan tetap menekuni kejar paket seperti kawan-kawan jalanan lainnya. “Setelah tahu aku anak jalanan, aku selalu diolok-olok,” begitu Wawan beralasan.

Selain pertemuan-pertemuan indah di Kenjeran dan warung-warung makan serta bioskop-bioskop jalanan, aku dan Wawan dipisahkan oleh jarak. Kami bertahun-tahun tak bertemu karena aku meneruskan pendidikan tinggi di luar kota.

Namun setiap aku liburan dan pulang kampung, kami selalu menyempatkan waktu untuk bertemu. Di sela-sela kerja padatnya sebagai pelayan restoran, dengan semangat ia bercerita soal cita-citanya. “Aku masuk SMA pakai biaya sendiri. Sekarang aku sudah lulus, dapat ijazah SMA, jadi lebih gampang cari kerja. Nggak bisa hidup cuma dari ngamen,” kata Wawan. Matanya berbinar-binar penuh harap saat bercerita tentang dirinya. Aku tahu ia bangga.

Ia ingin melanjutkan sekolah di ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta, namun apa daya biaya tak ada. Wawan berganti-ganti pekerjaan. Karyawan di perusahaan retail, pelayan restoran, sampai pegawai di klub malam.

Kalau Wawan memintaku menemaninya melewatkan jam kerja di restoran, aku masih melihat cara berpamitan yang sama kepada ibunya di pagi hari. Cium tangan penuh hormat, ditambah cium sayang di pipi kanan dan kiri. Aku juga melihat hanya ada dua seragam yang ia pakai selama seminggu. Dua hari sekali ia mencuci seragamnya. Langsung dipakai lagi esok harinya.

Sepatu pantofel hitamnya hanya ada satu dan sudah lusuh, ia sembuyikan di atap kontrakannya karena takut kena tangan jahil anak-anak kampung. Motornya tetap mesin dua tak yang menggerung dengan keras di sepanjang perjalanan. Dan sepanjang hari di sudut restoran, aku melihatnya dengan ramah melayani pelanggan yang datang, tak peduli betapa jutek pelanggan itu.

Meski jam kerjanya padat dan hanya libur sehari dalam seminggu, hampir setiap sore Wawan tetap latihan nge-band. Dulu sewaktu masih aktif di sanggar, ia bisa bermain segala macam alat musik di band sanggar. Ia juga pentas di mana-mana, bahkan sampai Jakarta. Soal itu juga dengan bangga ia ceritakan, matanya masih berbinar-binar.

Karena kesibukan masing-masing, aku semakin jarang bertemu Wawan. Awal-awal, ia masih sering menyapaku di telepon, menceritakan pengalaman hidup dan mimpi-mimpinya. Band-nya diundang pentas di sana-sini, ia bertemu artis ini dan itu, sampai ia ditawari rekaman di Jakarta. “Aku mimpiin kamu jadi musisi terkenal deh Wan,” aku memberi semangat.

Namun belakangan, Wawan seakan menghilang. Aku pernah dua kali bertemu dengannya secara tak sengaja di Joyoboyo. Kami tak sempat mengobrol, hanya ada senyum yang saling dilemparkan dengan ragu-ragu. Entah apa penyebabnya, ia kembali ke habitat lamanya. Mengamen dari satu angkot ke angkot lain.

Tak lama, Wawan mengirim pesan singkat ke handphone-ku. Tidak lagi menelepon seperti biasanya. Karena ternyata, ia sibuk di Jakarta. Grup musiknya lolos sebuah ajang pencarian bakat di televisi swasta nasional. Wawan meminta dukungan.

Wawan yang sekarang kulihat, bukan bocah ingusan seperti dulu lagi. Ia tampil berganti-ganti kostum setiap minggu, dielu-elukan penggemar dari seluruh penjuru nusantara. Baju resminya tak lagi berwarna hitam-putih dan hanya dua lembar. Sepatu pantofelnya pun berbagai model dan merk terkenal. Ketika akhirnya Wawan memenangkan kontes itu, aku turut bersyukur. Ia, dengan matanya yang berbinar-binar dan semangat hidupnya itu, juga dengan rasa cintanya yang selalu tulus pada sang ibu, memang layak mendapatkan kemenangan.

Bocah ingusan itu bernama Davy Indriawan, orang-orang memanggilnya Wawan. Tanggal 25 Desember nanti, usianya genap 22 tahun. Kini ia bukan lagi seorang bocah ingusan di pentas-pentas jalanan. Selama berpuluh-puluh tahun hidup dalam kesederhanaan, karena usaha dan semangat ia pun berhasil mencapai cita-citanya. Wawan yang sekarang, tengah berada di panggung masa depan.

Aku bangga melihat kawanku meski hanya dari layar kaca. Ia adalah seorang pahlawan. Dari yang bukan apa-apa, hanya berkutat di pentas-pentas jalanan, bocah ingusan itu pun berdiri menjulang di panggung masa depan. Zero to Hero. Ya, seperti judul buku karangan Abu Izzudin Penerbit Pro-U Media itu. Dan sekali lagi, aku banyak belajar darinya.

[Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html]

Advertisement

2 Comments

  1. frozen said,

    Hmm… pantas, bisa lolos 25 besar finalis lomba esai Luka Sejarah :)

    • Afrisia said,

      lho, lho.. aku kok malah g tw soal esai sejarah y? akhirnya pemenangnya siapa tuh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.