Niat Saja Tidak Pernah Cukup
Niat Saja Tidak Pernah Cukup
Mata bulat koinnya menatapku memelas, ia duduk bertumpu pada kedua kakinya di depan pintu, menanti kedatanganku. Kalau aku membuka pintu itu, badannya yang putih menggemaskan berjalan ke arahku, berputar-putar di kakiku. Maka aku akan menunduk, seberapa berat dan banyaknya beban dalam tas ranselku, mengulurkan tangan untuk sekadar membelai kepalanya. Berbagi sayang setelah seharian aku sibuk di luar rumah sementara ia kesepian menungguku di rumah. Ia pun menggeliat dengan nyaman, menyorongkan leher dan bagian-bagian tubuhnya yang lain yang ingin dibelai atau digaruk. Aku pun dengan senang hati menuruti kehendaknya. Sampai terakhir, biasanya kututup dengan menepuk-nepuk kepalanya atau mencium sekilas ujung hidungnya.
Ritual itu terjadi hampir setiap hari, tak terkecuali malam itu. Aku baru saja pulang setelah seharian penuh melampiaskan rindu pada kekasih hati. Dia menungguku di depan pintu, dengan mata bulat koin yang memelas menunggu dibelai. Namun dengan lembut aku menyebut namanya, memintanya menunggu lagi sampai aku selesai bercengkerama dengan si doi di teras rumah. Dia tidak lelah menunggu, terkadang ditinggal sebentar untuk menyantap makan malam yang tersedia, tapi tak lama kembali lagi ke depan pintu. Ketika ternyata cengkeramaku baru berakhir pukul sembilan lebih, aku berniat dalam hati untuk mengajak dia tidur bersamaku saja di kamar nanti. Kasihan, dia sudah menunggu belaian dariku lama sekali.
Nyatanya, setelah terbuai oleh cengkerama indah bersama kekasih, aku masih terbuai lagi oleh film vampire keren di sebuah stasiun TV, yang sudah pernah kutonton di bioskop dan kubaca dalam novel tapi masih tetap tidak bosan menontonnya untuk kesekian kali. Bukannya memenuhi niat tidur bersama dia di kamar, aku justru menggelar kasur di depan tv, menonton film sampai tertidur. Dia, kubiarkan berkeliaran di sekelilingku, tidur di kolong meja, atau bersandar lemari buku. Besok sajalah aku tidur bersama dia, begitu pikirku kala itu.
Lewat tengah malam, aku terbangun karena geraman keras di bawah tangga. Aku melihat matanya nyalang, seakan baru saja mengalami sesuatu yang mengejutkan. Dan memang dia baru saja mengalaminya. Aku menyadari saat melihatnya berjalan tertatih, kaki kirinya tertekuk menggantung tak menyentuh bumi. Segera setelah itu ia berbaring di sudut-sudut ruangan, terus menyendiri merasakan sakit tak terperi yang dialaminya akibat jatuh dari anak tangga teratas.
Aku berharap esok pagi semua akan membaik, dia hanya keseleo dan sudah bisa berjalan dengan normal lagi. Tetapi harapanku pupus saat kulihat mata bulat koinnya tak lagi memancarkan cahaya menggemaskan yang biasa, berganti menyimpan perasaan sedih dan rasa sakit luar biasa. Ia tak lagi duduk di depan pintu menunggu belaianku, tidak lagi berlarian ke kamarku, berkejaran dengan kawan-kawannya, bermain dengan bola, bertengger di atas mobil memandangi tukang sayur atau loper koran langganan, bahkan jarang mengeluarkan suara manja seperti yang sudah-sudah. Dia lebih memilih menyendiri di sudut-sudut ruangan, hanya bergerak terpincang-pincang saat merasa lapar atau hendak buang air.
Melalui rontgen, aku tahu tulang kaki yang biasa dia gunakan untuk bertumpu sambil menungguku pulang itu, telah patah menjadi tiga bagian. Bahkan ada tiga serpihan di sekeliling patahan itu, tak heran ia selalu tampak kesakitan. Dia pun harus menginap di rumah sakit, membutuhkan perawatan intensif, dan yang paling penting, operasi tulang yang amat mahal harganya. Sejak kemarin malam, aku pulang ke rumah dengan perasaan hampa. Karena tak lagi terlihat sosoknya yang putih menggemaskan, dengan ekor pendek yang bergerak-gerak senang saat tubuhnya dibelai lembut. Sejak kemarin, ia terbaring lemah di rumah sakit hewan.
Peristiwa lewat tengah malam saat dia terjatuh dari tangga, terus berputar-putar di kepalaku. Menyusup sebuah perasaan sangat bersalah yang bercampur dengan penyesalan amat sangat. Seandainya malam itu aku jadi mengajaknya tidur di kamar bersamaku, tidak akan begini jadinya. Dia tidak akan jatuh terhempas dengan keras, dan tulang kakinya tidak akan patah menjadi tiga. Yang penting lagi, dia tdak akan merasakan sakit yang tak terperi itu.
Kurasakan betapa bodoh diriku, yang malam itu hanya berniat mengajaknya tidur bersama. Tidak benar-benar kulakukan dengan memanggilnya atau menggendongnya ke dalam kamarku. Aku justru mengingkari niat dengan tidur di depan tv, tanpa memedulikan dirinya. Ternyata, niat saja tidak pernah cukup. Meski dikatakan niat baik sudah dapat nilai plus dari Tuhan, yakinlah itu tidak akan pernah cukup. Nilai plus tidak ada artinya dibandingkan nilai plus plus plus yang akan didapat ketika niat itu benar-benar terlaksana.
Untuk beribadah misalnya, sering saya hanya niat akan beribadah lengkap dan tepat waktu, tetapi pelaksanaannya tidak pernah sesuai. Kadang saya beribadah tidak tepat waktu, kadang bahkan tidak lengkap waktu. Tetapi setan dalam hati saya menghibur, yang penting kan sudah pernah niat. Baru sekarang saya benar-benar yakin, niat memang tidak pernah cukup. Bisa saja terjadi sesuatu yang buruk ketika apa yang sudah diniatkan tidak terlaksana, seperti dia yang jatuh dan patah tulang karena niat saya untuk mengajaknya tidur di kamar, urung. Saya tidak ingin sesuatu yang buruk juga akan terjadi ketika saya sudah berniat beribadah, tetapi urung. Entah Tuhan menilai apa. Plus, atau plus plus plus. Yang jelas, meski niat sudah ada, tetapi pelaksanaannya tidak terjadi. Karena Tuhan sangat baik hati, mungkin Dia sudah akan menilai plus. Tetapi jangan selalu memanfaatkan baik hatinya Tuhan, Kawan. Kita manusia ini, tahu diri sedikit lah. Tuhan sudah banyak memberi, sekali-sekali kita berikan pengabdian yang terbaik untuk-Nya. Lakukan yang terbaik, dan jangan hanya berniat melakukan yang terbaik. Karena niat saja tidak pernah cukup.
Tulisan ini saya persembahkan untuk kucing saya yang terpaksa terluka karena niat saya yang tak terlaksana. Miky, cepat sembuh yaaa…
Icha Afrisia