No Body Don’t Need the Media
No Body Don’t Need the Media
Dalam film “Green Zone”, tidak ada rakyat Amerika yang percaya bahwa sejak 1991, Irak tidak lagi memproduksi senjata pemusnah massal. Mereka lebih memilih percaya pada pemerintahnya yang mengatakan senjata pemusnah massal itu ada di Diwaniya, dan Al Mansour Baghdad. Militer Amerika di Irak ditugaskan menyergap gedung-gedung tua, menggali di tanah lapang, tanpa pernah membawa pulang bukti konret senjata itu memang ada.
Pemikiran kritis Roy Miller, Pembantu Letnan Satu Angkatan Darat Amerika lah yang akhirnya membawa ia pada kesimpulan, informasi lokasi senjata pemusnah massal yang diberikan padanya, tidak pernah benar. Ia sama sekali tidak meragukan letak koordinatnya, tetapi justru bertanya-tanya siapa intelejen si pemberi informasi yang selalu salah itu.
Sayang tak seorang pun berniat menggubris pertanyaan Miller. Mereka, dari tingkat anak buah sampai pejabat tertinggi, bersikukuh tidak ada yang salah dengan sang intel. “Gali saja dan temukan senjata pemusnah massal itu,”. Tapi Miller skeptis, ia ingin tahu alasannya berperang selama ini. Ia bukan orang yang manggut-manggut saja di bawah perintah.
Saat akhirnya Miller dan pasukannya menyerbu sebuah rumah yang dijadikan tempat pertemuan rahasia berdasarkan informasi dari salah seorang “haji” (panggilan Amerika untuk warga Irak), ia menemukan fakta lain dibanding yang selama ini ia ketahui. Informan yang ia dapatkan dari serbuan mendadak ke rumah itu, diangkut paksa oleh serombongan pasukan khusus yang datang tiba-tiba dengan helikopter. Entah apa sebabnya, mereka begitu bernafsu menguasai sang informan, yang akan menunjukkan mereka jalan menuju Jenderal Mohamed Al Rawi.
Bekerja sama dengan Martin Brown dari CIA, akhirnya Miller punya kesempatan berbicara dengan Seyyed Hamza, sang informan. Karena telah babak belur disiksa pasukan khusus, Hamza hanya dapat menyebutkan kata “Yordania”. Dari Lawrie Dwayne, wartawati The Wall Street Journal Miller tahu apa arti kata “Yordania”. Di tempat itu seorang pejabat Amerika, Clark Poundstone pernah bertemu dengan Jenderal Al Rawi, dan sejak itu nama “Magellan” banyak muncul di surat kabar sebagai sumber anonim.
Miller berjuang membuktikan sumber anonim itu hanya karangan pejabat Amerika, termasuk informasi yang dibawanya untuk para wartawan maupun militer. Ya, “Magellan” menyebutkan lokasi-lokasi senjata pemusnah massal, yang tidak pernah terbukti satu pun.
Nyatanya, Irak memang tidak pernah lagi memproduksi bahkan menyimpan senjata pemusnah massal seperti yang dituduhkan. Pertemuan di Yordania menghasilkan jawaban itu. Namun pejabat Amerika lah yang membuat “Magellan” dan menyebutkan Irak masih memiliki senjata pemusnah massal. Pejabat Amerika lah yang memanfaatkan media untuk menebaran kebohongan, sehingga perang tak pernah berakhir sampai Amerika berhasil menduduki Irak.
Dalam perjalanannya, Miller menemukan bukti hidup atas fakta itu: Jenderal Al Rawi sendiri. Namun pada akhirnya sang jenderal terbunuh dan Miller menjadi satu-satunya orang yang percaya “Magellan” hanya karangan, dan Irak tidak punya senjata pemusnah massal.
Ke mana Miller membawa kebenaran yang akhirnya terungkap? Jawabannya adalah ke media. Ia mengirim email kepada media-media di Amerika -CNN, USA Today, The Wall Street Journal, dan lain-lain -yang berisi kebenaran. Pemalsuan intelejen oleh pejabat Amerika sendiri. Miller tak salah karena ia membutuhkan media, untuk menebar kebenaran di atas kebohongan yang telah ditebar sebelumnya. Di tangan media, fakta kebenaran itu akan bergaung di seluruh publik Amerika, dan begitulah film “Green Zone” berakhir.
Seperti judul tulisan ini, no body don’t need the media. Tak seorang pun yang tidak membutuhkan media. Bahkan pejabat pemerintah Amerika untuk memanipulasi fakta yang terjadi di Irak dan membentuk opini publik atas itu, bahkan pua seorang militer Amerika untuk menebarkan kebenaran yang ia tahu dirinya yang berbicara seorang diri, takkan ada orang yang percaya. Semua orang membutuhkan media, dengan kekuatannya yang (masih) sedemikian perkasa menebarkan informasi, memengaruhi agenda dan opini publik.
Jadi kalau Dipo Alam bersikeras ia hendak memboikot media, apalagi dengan alasan menjelek-jelekkan pemerintah, ia mengingkari hak setiap orang yang membutuhkan media. Bahkan hak dirinya dan kelompoknya sendiri: pemerintah. Lewat mana lagi pemerintah akan bercermin atas kinerja yang selama ini mereka lakukan, kalau bukan lewat media? Lewat mana lagi pemerintah akan menebarkan hal apapun yang berkenaan dengan pemerintah (entah baik atau buruk), kalau bukan lewat media?
Belajarlah dari film “Green Zone”, Bapak. Kebenaran, sekeras apapun usaha untuk menutupinya dan selihai apapun manipulasinya, akan tetap terungkap. Dan sarana paling tepat mengungkap kebenaran adalah lewat media. Karena para insan pers yang bekerja di media itu punya nurani, Bapak. Dan mereka diperbolehkan mengikuti nurani itu sesuai elemen jurnalisme kesembilan. Kalau buruk, mereka tulis buruk. Kalau memang Bapak merasa telah bekerja dengan baik, pasti akan mereka tulis baik pula. Berwacana memboikot media, Anda hanya akan ditertawakan oleh publik Anda yang semakin cerdas ini. Ini waktunya berdemokrasi, tidak zamannya lagi tirani dan manipulasi. Sadarilah bahwa siapapun, termasuk Anda sendiri, akan membutuhkan media.
Icha Afrisia