Everywhere Journalism

May 3, 2011 at 08:03 (Uncategorized)

Everywhere Journalism

Seorang pecandu jejaring sosial Twitter di Abbottabad, Sohaib Athar, terkejut mendengar suara derum helikopter yang memecah hening malam kotanya. Senin, 2 Mei 2011 sekitar pukul 01.00, helikopter pertama datang, disusul yang kedua dan ketiga. Berikutnya, masih ada suara ledakan dan helikopter jatuh. Detik demi detik, peristiwa demi peristiwa yang Athar interpretasi hanya lewat salah satu indera, pendengaran, ia tulis melalui tweet-nya.

Seperti yang ditulis Kompas edisi Selasa, 3 Mei 2011, tanpa disadari Athar telah menyampaikan laporan pandangan mata operasi militer yang akhirnya menewaskan Osama bin Laden. Ya, kegaduhan helikopter dan suara ledakan yang kata Athar membuat kaca jendela bergetar itu, adalah operasi militer terpenting Amerika melawan terorisme. Osama ditemukan di sebuah rumah mewah di Abbottabad, Pakistan, setelah sepuluh tahun ia menjadi buron militer Amerika.

Athar sendiri baru mengetahui peristiwa itu setelah pagi harinya menonton Obama memastikan tewasnya Osama bin Laden. Dengan bangga Obama menyampaikan pada warga Amerika dan dunia, Osama tewas dalam operasi militer Amerika. Operasi militer yang dilaporkan Athar dengan terus memperbarui tweet-nya, dianggap Obama sebagai keadilan yang telah ditegakkan.

Jelas Athar bukan seorang wartawan, ia adalah pemrogram komputer yang kebetulan terbangun dini hari itu dan rutin menuliskan detik demi detik peristiwa dalam Twitter. Namun jauh sebelum televisi menayangkan pernyataan kepresidenan Obama di balik mimbar dengan lambang Amerika, “laporan” Athar telah lebih dulu sampai pada orang-orang seluruh dunia. Ia tidak perlu turun ke lapangan dibekali peralatan canggih untuk live menyampaikan laporan, ia hanyalah seorang saksi mata yang melaporkan peristiwa atas inisiatif sendiri.

Dan Twitter, jejaring sosial itu mengakomodasi makin cepatnya arus infomasi bergulir tanpa perlu profesionalitas dan kompetensi yang dimiliki seorang wartawan. Karena memang sejatinya manusia punya hasrat untuk saling mencari dan memberi informasi. Bukan hanya Twitter, kecanggihan teknologi masa kini memang telah memungkinkan setiap orang saling berkirim informasi aktual, terbaru, terkini, terhangat, tanpa harus melewati kompleksnya sistem media massa.

Saya teringat Errol Jonathans, Direktur Operasional Suara Surabaya pernah mengkhawatirkan aktualitas yang seharusnya menjadi kekuatan radio, suatu saat akan kalah oleh Facebook, Twitter, bahkan BBM. Pendengar tidak perlu repot menelepon ke stasiun radio untuk menginformasikan sebuah kemacetan misalnya, ia cukup berbagi informasi lewat Facebook, Twitter, ataupun BBM yang lebih personal. Dan pendengar lain, atau bahkan mungkin lebih banyak orang, akan mendapat informasi itu.

Televisi dan terutama surat kabar seharusnya juga amat mengkhawatirkan hal itu. Kecepatan dan aktualitas informasi yang disampaikan media massa akan kalah oleh kecanggihan teknologi. Ketika dulu orang pernah takut akan adanya citizen journalism yang muncul lewat blog, web pribadi, radio dan televisi interaktif, kini teknologi membuat semua orang bisa menjadi penyampai informasi. Saya pribadi menyebutnyasebagai everywhere journalism.

Nah, kalau sudah begini, apakah suatu saat nanti profesi wartawan akan mati karena setiap orang bisa memegang peran itu? Apakah wartawan benar-benar akan kalah oleh kecepatan dan aktualitas informasi dari teknologi? Belum tentu. Menurut saya, asalkan wartawan bisa memegang teguh profesinya, melaksanakan aktivitas jurnalistik sesuai kompetensi dan etika, ini adalah sebuah kekuatan yang tak dimiliki oleh semua warga.

Karenanya, para wartawan, kalau Anda semua tidak ingin “mati”, berkreasilah! Kita masih bisa unggul pada berita yang mendalam, yang luput dari pengamatan orang biasa. Kalau masih ada wartawan yang malas, yang hanya meliput peristiwa secara permukaan saja, bersiaplah untuk kalah dan mati. Kualitas pemberitaan masih bisa kita unggulkan, jangan justru mundur dari persaingan dan membuat berita sampah dengan alasan ceruk pasar masih ada.

Maaf kalau agi-lagi saya harus mengutip, namun kutipan ini bagi saya amat menarik. Seorang anggota Dewan Pers berkata pada saya, ia mengibaratkan kemerdekaan pers adalah oksigen demokrasi. Semakin diisi oleh informasi dan pers yang berkualitas, oksigen itu akan semakin murni dan menyehatkan masyarakat. Namun jika pers mengisinya dengan berita-berita sampah, udara akan pengap, masyarakat pun tak sehat.

Ayo kita pacu lagi produktivitas profesi wartawan, meski tantangan baru telah menjelma, everywhere journalism. Kalau saya seorang wartawan, saya akan berkata, here is journalism! (Icha)

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.