Kuasa Tak Terbantah Sang Pemerintah

May 15, 2011 at 21:44 (Uncategorized)

Jika Anda seorang wartawan, apa yang akan Anda lakukan ketika agen-agen pemerintahan mengintimidasi Anda untuk mengungkap identitas sumber anonim padahal Anda telah terikat perjanijan dengannya? Akankah Anda tetap berpegang teguh pada kode etik demi integritas dan profesionalisme, jika kerasnya kehidupan dalam jeruji besi telah membekap Anda selama satu tahun?

***

Kehidupan Rachel Armstrong tak pernah senormal ini. Mengantarkan Timothy, anak lelakinya ke sekolah di pagi hari, mendapat sebuah ciuman dan pelukan, lalu berangkat ke kantor. Meski terkadang harus lembur, ia tak pernah alpa dari keluarga kecilnya yang bahagia. Bahkan beberapa hari dalam seminggu ia merelakan sebagian waktu mendampingi dan menjaga teman-teman sekolah anaknya.

Namun pagi itu, setelah peluk dan cium hangat dari Timmy, Rachel kedatangan ‘tamu tak diundang’. Dua orang petugas FBI menyeretnya ke depan Patton Dubois, penuntut federal yang sejak saat itu menghantui kehidupan Rachel. Penuntut itu memenjarakan Rachel atas nama ‘ancaman keamanan nasional’.

Perkaranya, Rachel membuka identitas rahasia seorang mata-mata CIA dalam tulisannya. Wartawan “Capital Sun Times” itu tak sengaja mendapat informasi bahwa Erica Van Doren, istri mantan duta besar Amerika Serikat Oscar Van Doren, adalah seorang mata-mata CIA yang dikirim ke Venezuela untuk menyelidiki keterkaitan mereka atas penyerangan terhadap Presiden AS.

Saat verifikasi, Erica menegaskan sumber Rachel 110% benar. Tanpa ragu, wartawan politik itu menuliskannya dan diterbitkan sebagai headline disuratkabarnya. Tulisan itulah yang membuat ia berali-kali diintimidasi agen pemerintahan untuk mengungkapkan sumber beritanya, dan berkali-kali pula ia menolak menyebutkannya. Sampai akhirnya, Rachel dijebloskan ke penjara.

Pegangan jaksa penuntut adalah hukum bahwa barang siapapun yang mengetahui rahasia CIA tidak boleh menyebarkannya. Karena Rachel tetap menolak menyebutkan identitas sumbernya, ia dianggap melindungi musuh penjara, mengganggu keamanan nasional.

Hampir satu tahun ia tak lagi mengantar jemput Timmy, mendampingi murid-murid sekolah dasar, menulis, bahkan mengikuti perkembangan berita. Setahun itu pula Rachel teguh memegang prinsipnya, kode etiknya, perjanjiannya dengan sang sumber anonim. Meskipun amandeman kelima yang menjadi perlindungan hukum wartawan, kalah pamor dibanding amandemen pertama yang mengagungkan keamanan nasional.

Hakim tertinggi akhirnya memutuskan Rachel bebas walaupun hasil pemungutan suara juri pengadilan masih memenangkan jaksa penuntut federal. Di malam kebebasannya, baru beberapa meter meninggalkan penjara, lagil-lagi Rachel ditangkap. Kali ini dengan tuduhan menghalangi pengadilan, dan ia dihukum dua tahun penjara.

Tahukah Anda siapa ternyata sumber anonim itu? Allison, putri bungsu Erica sendiri. Yang pada suatu ketika duduk di samping Rachel saat ia sedang mendampingi murid-murid SD seperti biasanya. Allison, teman satu kelas Timmy, menceritakan ‘rahasia negara’ itu dengan polos, dan mereka kemudian terlibat janji untuk ‘tidak mengatakan siapa yang berbicara’.

Hal itu kemudian dijadikan bahan dasar Rachel untuk membuat berita. Ia sudah melakukan verifikasi terhadap orang dekat Presiden, bahkan terhadap Erica sendiri, dan keduanya membenarkan. Jadi, salahkah Rachel jika ia lalu menulisnya dalam sebuah berita? Dan salahkah ia jika teguh pendirian untuk ‘tdak mengatakan siapa yang berbicara’?

Bukankah Bill Kovach dan Tom Rosenstiel pernah menyebutkan tujuh kriteria sumber anonim, yang salah satunya ‘keselamatan sumber terancam bila identitasnya dibuka’? Bagaimana nasib Allison, gadis kecil polos itu, jika pemerintah tahu ia yang ‘membocorkan rahasia’? Lagipula keterangan itu telah dapat diverifikasi, seperti yang juga tercantum dalah tujuh kriteria sumber anonim ala Kovach-Rosenstiel, bukankah gadis kecil pun pantas disebut ‘sumber anonim’?

Kejadian itu memang hanya dalam film “Nothing But the Truth”, namun bagaimana seandainya benar terjadi? Negara penganut demokrasi sebesar Amerika, pemerintahnya turut campur ‘melenyapkan’ orang-orang penggangu keamanan nasional. Tak peduli ia warga negaranya atau bukan. Tak peduli haknya sebagai wartawan atau tidak. Pemerintah masih menancapkan dalam-dalam cakar kuasanya atas nama stabilitas negara.

Akankah itu juga yang akan terjadi diIndonesiajika RUU Rahasia Negara jadi disahkan? Hak tolak yang menjadi pegangan wartawan, untuk menolak menyebutkan sumber beritanya meski di hadapan pengadilan, runtuh kekuatannya dibandingkan hukum untuk melindungi rahasia-rahasia negara yang mungkin publik justru lebih baik untuk tahu. Demokratisasi masyarakat, akan timbul tenggelam dihanyutkan kepentingan keamanan nasional atau stabilitas negara. Kebebasan memperoleh dan menyebarluaskan informasi, akan mati bersamaan dengan bangkitnya tirani.

Jangan pernah salahkan wartawan jika ia berpegang teguh pada kode etiknya. Jangan salahkan wartawan jika ia menjunjung tinggi integritas dan profesionalitas. Rachel bisa saja dengan mudah menjawab pertanyaan yang selama ini mengintimidasinya, lalu kembali ke keluarganya. Timmy tidak akan kesepian, dan suaminya tidak akan berselingkuh dengan perempuan lain.

Namun jika itu terjadi, profesionalisme wartawan akan mati. Semua orang akan menutup pintu untuk para wartawan, takut apapun yang mereka katakan akan ‘dibocorkan’. Tak seorang pun mau berbicara pada Rachel, tak seorang pun percaya lagi pada “Capital Sun Times”. Dan lebih parah, tak seorang pun percaya pada wartawan. Jadi, salahkah Rachel atas integritas dan loyalitasnya yang tinggi pada profesi wartawan?

Kalimat terakhir dari pembela Rachel menyatakan, memenjarakan wartawan hanya untuk negara yang takut dengan warga negaranya, bukan untuk negara yang membela dan melindungi warga negaranya. Anda ingin jadi yang mana, wahai pemerintah Indonesia? Negara yang membela dan melindungi warga negara, menjamin demokratisasi, melindungi setiap hak asasi termasuk untuk mendapatkan informasi? Atau negara yang terlalu takut, sehingga merasa berhak melakukan kriminalisasi terhadap warga negara termasuk wartawan, serta membuat pagar tinggi dialiri listrik bertegangan tinggi dengan tulisan “RAHASIA NEGARA”? (Icha Afrisia)

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.