Konsekuensi Baru Media Hari Ini
Kok Cuma digelandang, bawa ke lapangan dan tembak saja!
Buat apa ada kantor polisi? Tutup dan jadikan pabrik tahu saja!
Kurang lebih begitulah ungkapan masyrakat kita sekarang terhadap polisi. Komentar-komentar itu muncul untuk kasus penembakan seorang guru mengaji di Sidoarjo, Riyadi Solichin, oleh oknum polisi, Briptu Eko. Menurut pelaku, ia terpaksa menembak karena korban melawan dengan celurit saat hendak ditangkap setelah menyerempet mobilnya. Beredar kontroversi soal kasus itu. Ada yang melihat sebelumnya Briptu Eko dkk baru saja minum-minum di Café Ponti, ada yang bersaksi Solichin tidak membawa celurit, ada pula hasil lab yang menetapkan tidak ada kandungan alkohol dalam urine pelaku.
Masyarakat marah. Selama dua hari, Minggu dan Senin lalu, Sidoarjo dicekam demo ratusan warga Sepande, kampung Solichin, yang ‘nglurug’ ke Mapolsek. Hampir seluruh kalangan masyarakat menuntut keadilan ditegakkan. Mungkin kasus ini adalah puncak meletusnya kemarahan masyarakat pada polisi. Kasus Solichin menjadi bom atas kasus-kasus lain yang melibatkan polisi, entah mafia ataupun korupsi. Yang jelas, masyarakat sudah tergerak, dan adakah kekuatan yang bisa mengalahkan pergerakan masyarakat mayoritas?
Di media-media sosial yang kini seakan menjadi ruang publik dan terbuka luas, komentar-komentar miring tentang polisi bertebaran. Salah satunya, di halaman facebook e100 yang dikelola Suara Surabaya Media. Komentar negatif seperti contoh di atas, yang mengatasnamakan kemarahan rakyat karena ketidakadilan, muncul untuk tautan perkembangan berita demi berita soal kasus Solichin di halaman e100. Komentar itu ditanggapi oleh facebookers lain, semakin tajam, semakin menghujat. Ada sebagian yang memasrahkan keadilan pada tangan hukum, tapi percayalah, itu hanya sebagian kecil.
Sependek pengalaman saya yang belum lagi seumur jagung, perang komentar di halaman facebook e100 bukan hanya sekali ini terjadi. Perang komentar pernah terjadi untuk tindakan SBY Presiden sewaktu merombak Kabinet Indonesia Bersatu II, ajakan Presiden untuk memilih Pulau Komodo sebagai new7wonder yang dikritik akademisi, bahkan sampai masalah balita tertabrak dua kali di China yang berujung pada masalah rasis. Kalau sudah begitu, admin harus berkeringat mengingatkan soal kesantunan yang kemudian malah balik dikritik, atau kalau tidak mau pusing, hapus saja posting beritanya.
Penilaian pribadi saya, itu semua terjadi karena tidak ada ‘gatekeeper’ dalam sosial media macam facebook. Tautan atau share berita maupun informasi soal apapun, bisa dilakukan. Apalagi untuk halaman facebook yang merupakan kepanjangan tangan dari media massa tertentu. Halaman facebook demikian pasti digunakan untuk berbagi informasi pada khalayak seluas mungkin, lebih luas dari yang bisa dicapai media massa konvensional-nya sendiri. Namun di satu sisi, pengguna facebook juga tidak bisa dibatasi. Siapapun bisa mendaftar, dengan nama sebenarnya maupun samaran, aktif di facebook dan ‘ikut-ikutan’ aktif berkomentar.
Meskipun sejatinya facebook diciptakan agar kita bisa tetap terkoneksi dengan orang-orang di sekitar, praktek di lapangan telah melampaui jauh dari itu. Facebook seakan menjadi dunia baru, dunia maya lengkap dengan interaksi kehidupa di dalamnya, dengan orang-orang yang kita kenal maupun tidak kenal sama sekali. Banyaknya kasus penipuan di facebook, soal Icha dan Umar misalnya, telah membuktikan hal itu.
Rupanya media massa konvensional melihat ini sebagai peluang dan tantangan, bagaimana mengembangkan sayap konvensional mereka, untuk bisa menjangkau lebih banyak khalayak dan pastinya selalu tetap eksis. Maka menautkaan berita dari website mereka ke facebook, menjadi lazim karena dengan begitu akan menambah jumlah pengunjung ke halaman web. Bukankah hampir semua media hari ini telah berkonvergensi dengan internet dan memiliki website masing-masing?
Komentar-komentar yang datang atas tautan berita itu, tak ubahnya seperti surat pembaca yang masuk ke redaksi surat kabar. Bedanya, komentar datang tanpa bisa diseleksi. Positif, negatif, sampai yang mencemarkan nama baik. Kalau dihapus maupun dicekal penggunaannya, facebookers yang jumlahnya jutaan itu akan protes atas nama kebebasan berpendapat dan demokrasi. Bagi mereka, facebook adalah salah satu media menyuarakan aspirasi. Kritik, saran, pedas, manis, harus ditampung semua.
Salah satu karakteristik media massa yang umpan baliknya tidak langsung dan tertunda menurut ilmu komunikasi, kini seakan menjadi mitos. Umpan balik itu bisa langsung datang ketika media menautkan beritanya pada sosial media. Dan konsekuensinya, menurut pemikiran saya yang pendek ini, adalah kebijakan pemilik media untuk memilih berita mana yang bisa ditautkan dan tidak. Berita mana yang akan menimbulkan kontroversi, konflik, atau membangkitkan semangat dan motivasi pembaca.
Seingat saya, hal seperti itu dinamakan news judgement. Artinya, media harus menerapkan news judgement yang berbeda jika ingin menautkan beritanya pada sosial media. News judgement itu harus disesuaikan dengan karakteristi sosial media yang bersangkutan, juga karakteristik penggunanya. Bagi saya, ini tanggung jawab dan konsekuensi baru bagi media hari ini. Entahlah, apakah posting catatan saya di facebook ini juga akan menuai kontroversi dan konflik, saya hanya berbagi pemikiran. (Icha)